- Oleh Pepih Nugraha - 9 September 2009 - Dibaca 2085 Kali -
-
“Mas, Islam itu indah, ya!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari seorang rekan sekantor saat kami sama-sama berada di dalam kendaraan beberapa waktu lalu. Rekan sekerja saya ini seorang gadis belia yang bekerja sebagai AE, belum satu tahun di kantor dimana saya bekerja. Yang mengentak kesadaran saya adalah, gadis itu Nasrani. Radar pikiran saya pun langsung mendeteksi dan menangkap sesuatu yang menarik, kok ya dia bisa menilai demikian. “Memangnya kenapa?” tanya saya.
Rupanya dia terkesan dengan suasana bulan puasa ini. Selama bulan puasa ini dia mengatami prilaku orang berbuka puasa di jalanan. Dia terkesan bagaimana saat beduk tiba dan adzan maghrib siap berkumandang, para pengendara sepeda motor berhenti di jalan. Mereka saling berbagi sekerat makanan untuk ta’jil, entah itu sebiji kurma atau sekerat roti. Kadang minuman pun dibagi pula. Pokoknya mereka berhenti dan benar-benar dibimbing karena kesadaran harus menyegerakan berbuka puasa. Nilai solidaritas yang disebut ukhuwah Islamiyah menampilkan bentuknya yang menyejukkan di sini.
Saya bercerita kepada gadis itu mengenai prilaku Muslim saat berada di masjid, saat hendak sholat, saat memasuki masjid, saat keluar masjid, saat antri berwudlu, saat mencari tempat untuk salat, yang seluruhnya dilakukan dengan sangat tertib. Tidak ada yang saling dorong saat keluar masjid bersamaan, apalagi saat memasuki masjid. Yang mendapat shof paling depan tidak harus orang berpangkat dan kaya, orang biasa pun bisa duduk langsung di shof depan, asalkan tidak menempati tempat imam. Yang punya kedudukan dan hartawan tidak harus mencak-mencak hanya karena tidak mendapat tempat bersujud di shof depan. Sesama muslim di masjid bersalam-salaman tanda persaudaraan yang tulus.
“Kok bisa ya, Mas?” tanyanya memendam heran.
Saya bilang, ya karena sudah dari sononya memang begitu. Mereka, sebagaimana saya, memang tertib kalau di mesjid. Hanya, sambung saya lagi, kadang sikap tertib ini seringkali tidak dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Well, saya sedikit otokritiklah! Kadang saat berkendara saja, saya bilang, kebanyakan pengendara saling serobot, tidak sabar, kadang menyemburkan makian. Pengendara motor merasa menjadi raja jalanan. Pengendara mobil dengan egonya sering memepetkan moncong kendaraan ke ekor kendaraan di depannya agar tidak dipakai lewat pengendara motor. Pengendara sepeda motor kadang menghalangi jalannya mobil. Egois jadinya.Ada yang lebih parah, pengendara motor kalau kesenggol urusannya jadi “Kelas”: si kaya nyenggol si miskin! Padahal, siapa tahu sopir mobil itu semata sopir upahan majikannya yang tidak lebih kaya dari si pengendara sepeda motor.
Saya menjadi berpikir, apakah rekan sekerja saya ini sekedar memancing saya dengan pertanyaan “Kok bisa ya, Mas?” itu, padahal masih ada kelanjutannya, “Mengapa hal itu tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?!” Saya pikir, dia gadis Nasrani yang tahu diri. Justru dari sayalah pertanyaan “Mengapa hal itu tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari” itu muncul. Ah, nanti kalau dia bicara demikian dikira tulisan bermuatan SARA lagi!
Saya memang merasakan kesejukan yang sama seperti dikatakan rekan saya itu saat masih berada dalam perjalanan. Saat itu bedug sudah bertalu-talu dan adzan di radio mobil sudah berkumandang. Saya melihat beberapa anggota masyarakat membag-bagikan makanan dan minuman mineral gelas plastik yang sudah dibungkus rapi. Dengan sopan mereka menyodorkan kepada saya yang kebetulan berada di belakang kemudi kendaraan. “Untuk ta’jil, Pak, silakan!” Tentu saja mengambilnya. Allohuma laka sumtu… Seteguk air mineral kemasan botol plastik mengaliri kerongkongan saya yang kering. Nikmat luar biasa!
Kembali ke soal tertib Muslim saat berada di dalam mesjid, saya teringat satu buku bagus berjudul Haji. Ditulis oleh Michael Wolfe dan diterbitkan Serambi. Ini buku kesaksian seorang mualaf yang terpana betapa tertibnya orang berhaji; jutaan orang datang ke Mekkah dari berbagai penjuru dunia, tetapi mengelilingi Kabah dalam satu pusaran yang sama, menghadap ke satu titik yang sama, berdoa dengan bahasa yang sama, dan segalanya dilaksanakan dengan tertib.
Alangkah indahnya kalau ketertiban di mesjid ini juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ya, setidak-tidaknya saya mencobanya sendiri saja!

0 Responses to Mas, Islam Itu Indah, Ya!
Post a Comment