Posted on 3:26 AM

Pimred Arrahmah: Kita Tak Takut Ditangkap Polisi

Aprizal Rahmatullah - detikNews

Jakarta - Bos Arrahmah, Mohamad Jibril telah dijadikan tersangka teroris oleh polisi. Pemimpin Redaksi Arrahmah Mohammad Fahri mengaku tidak takut apabila polisi juga melakukan penangkapan pada dirinya atau para karyawan.

"Kita tidak takut (ditangkap), takut itu hanya sama Allah," kata Fachri saat dihubungi detikcom, Jakarta. Selasa (25/8/2009).

Menurut Fachri, tuduhan teroris yang dialamatkan kepada bosnya rentan nuansa politis terhadap dakwah Islam yang selama ini dilakukan Arrahmah. Meski begitu, penangkapan Jibril oleh polisi dianggapnya sebagai risiko dalam memperjuangkan Islam.

"Kita hidup di zaman fitnah. Kita pikir hidup memperjuangkan Islam itu ada risikonya termasuk yang tidak senang dengan dakwah Islam," imbuhnya.

Fahri menerangkan, selama ini lembaga Arrahmah telah menjadi media dakwah Islam yang konstruktif. "Arrahmah adalah lembaga yang legal, visi misi kita hanya memperjuangkan Islam," jelasnya.

Arrahmah yang mempunyai tagline 'filter your mind get the truth' itu sering menampilkan berita yang membela tersangka ataupun terpidana teroris. Mohamad Jibril merupakan pemilik dan pendiri Arrahmah. Jibril diduga terlibat pendanaan luar negeri untuk membiayai aksi pengeboman JW Marriott dan Ritz-Carlton.


(ape/iy) Read More

Posted on 3:25 AM

Imam Besar Al Aqsha: Islam Haramkan Teroris

Bandarlampung (ANTARA News) - Imam besar Masjid Al Aqsha, Palestina, Dr Syeikh Mohammad Mahmud Shiyam, mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan yang mengatasnamakan jihad agama di Indonesia, diharamkan dalam Islam dan tidak dianjurkan.

"Sama sekali tidak diperbolehkan membuat tindakan teror di suatu negara dengan mayoritas penduduknya muslim, seperti di Indonesia, karena hanya akan membuat kaum muslim semakin menderita," kata dia, dalam silaturahmi dengan jamaah masjid Al Wasyi`i Universitas Lampung (Unila), di Bandarlampung, Minggu malam.

Pria yang juga Rektor Universitas Gaza, Palestina itu juga mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan yang mengarah kepada terorisme seperti dua sisi mata uang.

"Berbicara mengenai terorisme itu seperti membicarakan dua sisi mata uang, ada yang baik dan ada yang buruk," kata dia.

Menurut Syeikh, terorisme akan menjadi baik dan dibenarkan apabila ada musuh nyata, dan dilakukan di daerah konflik, seperti di Palestina, Irak, dan Afganisthan.

"Daerah-daerah tersebut memiliki musuh yang nyata, seperti Zionis di Palestina, tentara Amerika di Irak, namun tidak untuk di negara damai seperti Indonesia," kata dia.

Menurut Syeikh lebih lanjut, teror yang dilakukan di Indonesia termasuk tindakan teroris yang salah, dan salah menerjemahkan arti jihad.

Dia menambahkan, teror tidak boleh dilakukan pada negara mayoritas muslim, karena akan membuat kaum muslim di negara itu menjadi menderita, dan hidup dalam ketakutan.

Dia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, yang antara lain isinya menegaskan tentang diwajibkan bagi umat muslim, untuk menjaga orang asing yang datang ke negaranya dengan tanpa tujuan berperang.

"Mereka datang ke Indonesia untuk meminta perlindungan, jadi anda sebagai muslim wajib melindunginya," kata dia.

Secara keseluruhan, dia mengatakan apa yang dilakukan Noordin M Top dan kawan-kawan, adalah bukan ajaran Islam, bahkan cenderung diharamkan.

Hal itu disampaikan Syeikh, dalam acara silaturahminya dengan jamaah Masjid Al Wasi`i Universitas Lampung, hasil kerjasama antara Universitas Lampung dengan Jamaah Muslimin (Hizbullah) Lampung.

Acara itu diawali dengan buka puasa bersama, yang dilanjutkan dengan Shalat Tarawih berjamaah, dengan Syeikh Mohammad Mahmud Shiyam, sebagai imam shalat Tarawih berjamaah.

Usai shalat tarawih berjamaah, Syiekh menyempatkan diri untuk memberikan ceramah, kepada para jamaah yang hadir, dengan didampingi oleh Rektor Universitas Lampung, Sugeng P Harianto.

Hadir pula Imamul Muslimin, yang juga Pembina Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah, Natar, Lampung Selatan, H Muhyidin Hamidy.

Pada kesempatan itu panitia, yang dimotori civitas akademika Unila itu juga berhasil mengumpulkan dana spontanitas dari para jemaah sebesar Rp3,6 juta, yang akan disumbangkan kepada warga Palestina di jalur Gaza yang sedang menderita dan sangat membutuhkan bantuan.(*)
Read More

Posted on 3:24 AM

Tenda Ramadhan Pertama Dibuka di Jalur Gaza

Tenda Ramadhan Pertama Dibuka di Jalur Gaza
Sejumlah umat Muslim berjalan pada sebuah gang yang oleh mereka dikenal sebagai al-Haram al-Sharif dan bagi kaum Yahudi dikenal sebagai Temple Mount,. (ANTARA/REUTERS-Baz Ratner)
Kota Gaza (ANTARA News) - Satu badan amal pro-HAMAS, Senin, membuka tenda Ramadhan untuk menampilkan hiburan Islam moderat di Jalur Gaza, yang dikuasai HAMAS.

Tenda tersebut "menerapkan ideologi menengah dan moderat untuk melindungi kaum muda dari perilaku keliru dan gagasan yang merusak", kata Ahmed Elaian, pemimpin Perhimpunan Islam, yang menata kegiatan itu.

Di dunia Arab, pembukaan tenda Ramadhan berarti 30 malam pesta, musik, tari-tarian dan menghisap "hokah" mulai dari terbenam Matahari sampai terbit fajar. Tenda semacam itu tak ada lagi di Jalur Gaza, tempat HAMAS telah memegang kendali selama lebih dari dua tahun.

Tenda Ramadhan biasanya buka setelah rakyat Palestina mengakhiri shalat paling lama hari kelima pada malam hari. Di sana, orang dapat mendengarkan musik Islami, menyaksikan pertunjukan dan menghadiri seminar politik yang kebanyakan dipusatkan pada pemimpin, kegiatan dan sejarah HAMAS.

Selama Ramadhan, umat Muslim harus menjauhkan diri dari makan, minum dan bahkan merokok dari fajar sampai terbenam matahari. (*)
Read More

Posted on 3:18 AM

Habib Rizieq Menentang Aksi Bom Bunuh Diri

Habib Rizieq Menentang Aksi Bom Bunuh Diri

Palembang (ANTARA) - Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab menentang aksi bom bunuh diri yang mengatasnamakan Islam, karena merupakan tindakan jihad menyimpang dan berdampak buruk bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

"Jihad dalam Islam bukan seperti itu," kata Habib Rizieq di Palembang, Senin (17/8) malam di hadapan ratusan umat Islam pada syukuran dan tausyiah peringatan HUT ke-64 Kemerdekaatn RI.

Menurut Rizieq, aksi bom bunuh diri bukanlah perbuatan umat Islam yang baik, karena akibat yang ditimbulkan berdampak buruk bagi orang banyak yang tidak bersalah.

Ia menegaskan, berjihad dalam Islam merupakan perbuatan terpuji namun bila itu dilakukan bukan pada tempatnya, maka perbuatan tersebut menjadi tindakan yang tercela.

Dia menilai, aksi bom bunuh diri yang dilakukan itu, pelakunya hanya menjadi korban dari orang yang akan menghancurkan dan memecah belah umat Islam di Indonesia.

"Mereka sangat mudah mempengaruhi korbannya dengan menggunakan syiar agama untuk meracuni kepribadian korbannya," ujar Habib.

Karena itu, dia menyatakan sangat setuju dengan tindakan aparat yang menangkap dan mengadili para pelaku teror dan pengeboman bunuh diri itu.

"Aparat silakan tangkap dan membongkar semua pelaku bom bunuh diri yang menelan banyak korban tersebut," kata dia pula.

Namun Habib mengharapkan kepada segenap aparat jangan sampai pesantren atau tempat menuntut ilmu bagi umat Islam dijadikan "kambing hitam" dan dianggap menjadi tempat berkumpul para teroris atau menganggap orang yang berjubah adalah teroris.

Dia menilai, tindakan tersebut justru bisa menjatuhkan nama baik dan menyudutkan lembaga pendidikan yang bernuansa Islami.

"Kalau dibiarkan terus, tindakan seperti itu oleh aparat justru dapat memprovokasi mereka untuk tidak percaya dengan aparat yang dinilai telah berlaku sewenang-wenang," ujar dia.

Karena itu, Habib Rizieq mengajak semua jemaah yang hadir dan tampak antusias mengikuti tausyiah tersebut untuk tidak sampai terjebak dengan hal-hal yang melenceng dari ajaran Islam dan harus menentangnya bersama-sama.

Read More

Posted on 3:17 AM

Ical Dukung Fatwa Haram Mengemis

Ical Dukung Fatwa Haram Mengemis

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie menyambut baik fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan mengemis. Fatwa tersebut akan membawa kepada kebaikan.

"Soal mengharamkan itu untuk kebaikan. Manusia Indonesia jangan hanya melihat uang tapi tidak peduli pada harga diri," ujar Ical, panggilan akrab Aburizal.

Hal tersebut disampaikan Ical usai memberikan kuliah umum di Universitas Bakrie, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2009).

Menurut Ical, seruan yang dilontarkan oleh MUI dan pemerintah provinsi DKI Jakarta harus didukung. Sebab, penanganan untuk para gepeng tersebut tidak mengemis lagi cukup sulit.

"Sudah ditangani, tapi sedihnya adalah setelah dididik mereka gagal bekerja dan mereka mengemis lagi," jelasnya.

Ical beserta jajarannya pun sudah melakukan program dalam menangani masalah ini, di antaranya memberikan keterampilan dan pendidikan bersama dari Departemen Sosial.

"Paling tidak dari 100% yang kita tangani, 70 % kita usahakan tidak kembali lagi mengemis,"pungkasnya.

Read More

Posted on 3:15 AM

Jelang Ramadan, Ratusan Anak Gelar Pawai di Lokalisasi

Menyambut bulan ramadan, 300 anak yang tergabung Forum Panti Asuhan Muhammadiyah-Aisyiyah (FORPAMA) Surabaya dan anak-anak TPA dan TK di sekitar Putat Jaya menggelar pawai ta'aruf di Lokalisasi Dolly dan Jarak.

Mereka mengajak warga Lokalisasi Dolly dan Jarak untuk berpuasa dan menjalankan amar maruf nahi mungkar. Sekretaris FORPAMA Surabaya Mawarno mengaku aksi itu untuk mengingatkan dan mengajak warga di sekitar Putat Jaya semakin dekatnya bulan ramadan.

"Aksi ini sebagai salah satu bentuk imbauan kepada masyarakat untuk salat, berpuasa, zakat dan bertaubat," kata Mawarno kepada wartawan di sela-sela aksi ta'aruf, Sabtu (15/8/2009).

Mawarno menambahkan, selain mengimbau kepada masyarakat, pihaknya juga mengenalkan kepada anak-anak untuk peduli satu sama lain termasuk di lingkungannya.

"Kita hanya bisa mengimbau dan tidak bisa mengintervensi. Kami hanya bisa menyampaikan pesan moral melalui aksi pawai ta'aruf dari anak-anak," tuturnya.

Dalam pawai ta'aruf tersebut, juga diselingi aksi teatrikal yang menggambarkan setan dan jin dirantai oleh malaikat untuk tidak menganggu umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, anak-anak juga membentangkan berbagai poster yang bertuliskan: "Awas jika tidak puasa, Makanlah yang bergizi untuk puasamu nanti, Jangan nodai bulan suci ramadan, Santai tidak enak lebih baik puasa, Ayo puasa ayo puasa" dan tulisan-tulisan lainnya.

Anak-anak juga membagikan bunga mawar dan selebaran ke pengguna jalan maupun penghuni lokalisasi, sebagai bentuk aksi simpatik. Dari pantauan detiksurabaya.com, aksi itu sempat menarik perhatian penghuni lokalisasi, namun saat anak-anak melintas, mereka bersembunyi di dalam wismanya masing-masing.

Read More

Posted on 3:12 AM

MUI Pusat Dukung Fatwa Haram Mengemis

Liputan6.com, Jakarta: Sebuah peringatan bagi para pengemis diembuskan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan fatwa haram mengemis. Tindakan meminta-minta itu dinilai sebagai hal yang dilarang agama karena dapat merendahkan pribadi seseorang. Fatwa ini pun didukung MUI Pusat. "Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Dalam pengertian, Islam tidak menyenangi orang yang meminta-minta," kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, di Jakarta, Selasa (25/8).

Pengemis menjamur memasuki Ramadan ini. Pemandangan itu banyak menghiasi perempatan jalan di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Sebagian pengemis membawa serta keluarga, terutama bayi di bawah lima tahun. Di beberapa masjid besar seperti di Masjid Istiqlal, Jakarta, pengemis banyak berkeliaran.

Sebelum muncul fatwa MUI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan larangan mengemis, mengamen, atau mengasong dagangan sejak dua tahun silam. Pada Peraturan Daerah DKI Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum itu bahkan ditegaskan larangan membeli atau memberi kepada pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil. Ancaman hukumannya adalah denda maksimal Rp 2 juta atau kurungan maksimal 60 hari.

Departemen Sosial mempunyai beberapa cara mengatasi masalah ini. "Departemen Sosial mempunyai suatu program untuk membawa mereka ke perumahan, memberikan pendidikan ketrampilan kepada mereka agar mereka tidak mengemis lagi," jelas Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie.

Fatwa haram mengemis diungkapkan Ketua MUI Sumenep, Syafraji, pada 12 Agustus silam. Keputusan ini sudah lama diumumkan tapi banyak yang tak peduli. Mengemis dinilai menghinakan diri sendiri dan merugikan orang lain. Menurut Syafraji, mengemis juga termasuk aktivitas bermalas-malasan yang dilarang Islam. MUI Sumenep sudah menyebarkan fatwa haram mengemis pada jajaran MUI di tiap kecamatan. Nantinya, fatwa itu akan disebar lagi pada tokoh agama dan masyarakat. Simak video berikut.(AIS/LUC)

Read More

Posted on 1:58 AM

Tantangan Muallaf kepada Pendeta


Pada tanggal 9 November 2002, diadakan dialog Islam dan Kristen berlangsung di gedung ICMI Centre, Mampang, Jakarta Selatan. Pihak Kristen diwakili oleh Pendeta Josias Lenkong Mdiv MTh PhD, Rektor Institut Teologi Kalimatullah (ITK), Jakarta. ITK telah memproklamirkan pengkristenan kepada umat Islam dengan memperalat ayat-ayat al-Qur‘an. Hal ini terang-terangan disebutkan dalam brosur ITK bahwa visi institusi tersebut adalah “untuk membagikan kasih Kristus (baca: ajaran dan doktrin Kristiani) kepada kaum Muslim dan dialog antarpemeluk Islam dan Kristen”.

Bukti lainnya, dalam makalah berjudul “Otentisitas Alkitab Berdasarkan Kesaksian al-Qur`an” yang dimuat di majalah Pendidikan Syiar Injil (Pensyil) no 34, Lengkong menyatakan, al-Qur’an sangat potensial diperalat untuk menyebarkan misi Kristen kepada umat Islam.

“Tujuan utama menyelidiki referensi-referensi al-Qur`an yang menyaksikan tentang Alkitab ialah: agar kita dapat mengenal serta mengerti dan memanfaatkan potensi ayat-ayat al-Qur`an yang berguna bagi kepentingan membagikan berkat Injil kepada kaum Muslim yang kita cintai. Hal menyelidiki al-Qur`an bukanlah untuk kepentingan pertumbuhan iman kita, tetapi semata-mata hanya untuk menolong kaum Muslim” (hal. 8).

Pada bagian penutupnya, Josias menulis, “Kesaksian al-Qur`an sangat berguna untuk dijadikan jembatan atau sarana misi pekabaran Injil Alkitabiah” (hal. 26).
Dialog berlangsung selama tujuh jam. Mulai dari pukul 09.00 WIB dengan disaksikan oleh khalayak dari umat Islam dan Kriten dari berbagai kalangan kurang lebih 90 orang.

Dialog Rel Kereta
Dialog berlangsung kurang menarik karena tema yang disampaikan oleh kedua belah pihak tampak tidak sejalan. Ibarat dua rel kereta api yang tidak saling bertemu dan berjalan masing-masing. Pihak Kristen memaparkan makalah seputar Alkitab (Bibel), sedangkan pihak Islam memaparkan makalah seputar al-Qur’an. Dialog antar pembicara pun berlangsung tidak begitu seru dan menarik.

Tantangan Muallaf
Yang menarik dalam dialog tersebut adalah sesi tanya-jawab antara peserta dengan pembicara. H. Insan LS Mokoginta (muallaf mantan Katolik) dari Tim FAKTA menyampaikan pertanyaan dan tantangan yang cukup mecengangkan hadirin. Disebutkan, salah satu bukti mukjizat al-Qur‘an adalah mudah dihafal. Jutaan orang di dunia ini mampu menghafal al-Qur‘an di luar kepala. Jutaan huffazh (penghafal al-Qur’an-red) itu hafal al-Qur‘an dalam teks asli bahasa Arab, dari kalimat sampai titik-komanya, meskipun mereka banyak yang tidak paham bahasa Arab. Karena itu, seluruh kekeliruan cetakan al-Qur‘an baik yang disengaja ataupun tidak, pasti dapat segera dideteksi. Dengan demikian, otentisitas al-Qur‘an selalu terjamin. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS al-Hijr: 9)
Keistimewaan serupa tidak dimiliki oleh umat Kristiani. Sampai saat ini, tak seorang pun yang hafal Alkitab (Bibel). Muallaf FAKTA ini menantang Pendeta Lengkong dan seluruh jemaat Kristiani yang hadir. Jika ada di antara mereka yang bisa menghafal Alkitab satu lembar bolak-balik tanpa salah, dia akan kembali masuk agama Kristen. Seluruh peserta dialog (terutama kalangan Islam) kelihatan agak tegang dengan tantangan ini, khawatir kalau ada umat Kristen yang betul-betul hafal.

Ternyata, sampai acara selesai, tak seorang pun yang hafal Alkitab meski hanya selembar dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa asli Alkitab. Pendeta Lengkong menutupi kelemahannya dengan berkilah, “Kami umat Kristiani tidak ditekankan untuk menghafal kitab suci. Kami hanya menekankan pemahaman dan pengamalan, bukan hafalan.” Jawaban ini hanyalah retorika untuk menutupi kelemahan kitab sucinya. Sangat aneh jika pendeta (yang biasa mengkhutbahkan ayat Alkitab) sarjana S-3 tidak hafal selembar Alkitab pun. Padahal, jika Alkitab itu murni firman Tuhan, seharusnya mudah dihafal. Karena Allah pasti memudahkan umat manusia untuk menghafal firman-Nya.

Alhamdulillah, ketegangan hadirin pihak Islam pun berubah menjadi kecerahan. Tantangan muallaf tidak terjawab oleh sang pendeta. Insya Allah sampai akhir hayatnya hidayah Islam tetap menyertainya. Meski tantangan tersebut diperpanjang lagi sampai beberapa tahun, tetap tak akan terjawab oleh pendeta. Sebab umat Kristiani sudah tidak punya keseragaman kitab suci. Masing-masing penerbit berbeda versi dan tiap tahun terjadi revisi.

Untuk menelusuri asal-usul Alkitab yang asli, para teolog dan sejarawan menemui kebuntuan, karena naskah Alkitab yang asli memang sudah musnah. Alkitab yang ada saat ini adalah salinan dari salinan-salinan naskah kuno. Stefan Leks, pakar bibliologi mengakui hal tersebut. “Salah satu pertanyaan dasariah yang sering kali dikemukakan para pembaca Kitab Suci (Alkitab) menyangkut teksnya sendiri adalah: Sejauh manakah teks itu pasti? Jangan-jangan teks itu sudah diubah dan dimanipulasikan. Jangan-jangan ada teks-teks yang disingkirkan oleh pihak tertentu, dan sebagainya. Di seluruh dunia tidak usah dicari teks asli Kitab Suci, sebab teks itu memang tidak ada. Yang kita miliki sekarang ialah salinan dari salinan-salinan terdahulu, dan di antara bermacam-macam salinan yang kita miliki itu terdapat cukup banyak perbedaan” (Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, Kanisius, Yogyakarta 1992, hal. 73-74).

Seandainya ada orang yang hafal Alkitab cetakan tertentu, pasti tidak sama dengan Alkitab tertentu milik orang lain di tahun cetakan yang berbeda. Hal ini menjadi kendala lain yang cukup berat bagi orang yang ingin menghafal Alkitab.

Contoh perbedaan yang sangat mencolok dapat kita lihat pada Alkitab tahun 1970 dengan Alkitab tahun 2000. Dalam Alkitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 2000, kitab II Samuel pasal 21 terdapat 22 ayat, pasal 22 ada 51 ayat, pasal 23 ada 39 ayat dan pasal 24 ada 25 ayat. Jumlah seluruhnya, pasal 21-24 ada 127 ayat, termaktub kita-kira tujuh halaman. Seandainya ada orang yang hafal ayat ini, tentu akan sia-sia hafalannya. Karena dalam Alkitab versi lain, kitab II Samuel pasal 21-24 itu tidak ada.

Alkitab versi Kitab Kudus Perdjandjian Lama terbitan Arnoldus Ende-Flores tahun 1970 misalnya, tidak memuat 127 ayat tersebut dalam kitab Samuel. Pada halaman 290 dijelaskan bahwa pasal 21-24 itu adalah ayat-ayat tambahan saja. Bagi pembaca yang menginginkan copy lampiran tersebut, bisa meminta kepada Tim FAKTA melalui email, SMS, kontak HP atau surat via Po. Box.

Kalau demikian, tantangan muallaf kepada pendeta tidak akan pernah terjawab sampai kapanpun. Otentisitas al-Qur’an menguatkan iman para pemeluknya terhadap Islam untuk selamanya.

Read More