Posted on 6:11 AM

Jauhi Ghuluw dalam Ibadahmu

Penulis : Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah golongan yang selamat. Di dalam segala hal, mereka selalu berada pada sikap yang dilandaskan oleh hujjah dan dalil. Berada di atas manhaj wasathiyyah (pertengahan). Tidak berlebihan, tidak pula menggampangkan.

Merekalah yang dimaksud oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah:143)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti jalan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am:153)
Mengapa Ahlus Sunnah yang berhak menyandang kemuliaan ini? Karena mereka adalah golongan yang selalu berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah dengan penuh ilmu, bashirah, fiqih, dan hikmah. Oleh karena itu, mereka benar-benar jauh dari sikap ghuluw, dalam rangka mengamalkan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap sederhana di dalam beribadah.

Dalil tentang Wajibnya Beribadah Tanpa Disertai Ghuluw
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu di dalam Shahihnya membuat sebuah bab dengan judul Dibencinya beribadah secara berlebihan. Kemudian beliau membawakan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَتْ: فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا. قَالَ: مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللهِ لاَ يَملُّ الله حَتَّى تَملُّوا. وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْه صَاحِبُهُ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari masuk menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha. Pada waktu itu ada seorang wanita di sisinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapakah wanita itu?” Aisyah menjawab, “Fulanah, dia sedang menceritakan tentang (lamanya) shalat malamnya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing, “Cegahlah dia, hendaknya kalian beramal sesuai dengan kemampuan. Demi Allah, Allah tidak akan jemu sampai kalian sendiri yang merasa jemu.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan juga bahwa ibadah yang paling beliau senangi adalah ibadah yang selalu dijaga oleh pelakunya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tentang alasan dibencinya beribadah secara berlebihan, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menukil pernyataan Ibnu Bathal rahimahullahu sebagaimana dalam Fathul Bari, “Hal tersebut dibenci karena dikhawatirkan munculnya sikap jenuh sehingga malah meninggalkan ibadah tersebut secara keseluruhan.”
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu ketika menjelaskan hadits ini berkata, “Di dalam hadits ini pun terdapat penjelasan bahwa sudah seyogianya seorang hamba tidak memaksakan diri dalam ketaatan dan banyaknya amal. Karena hal tersebut akan menimbulkan kejenuhan yang justru berakibat ia meninggalkan ibadah tersebut. Keberadaan dirinya yang selalu menjaga amalan walaupun sedikit tentu lebih afdhal.
Telah sampai berita kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma berkeinginan, “Sungguh aku akan selalu berpuasa setiap hari dan melaksanakan qiyaamullail selama aku masih hidup.” Beliau mengucapkan hal ini karena benar-benar mencintai kebaikan. Namun, setelah berita ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau ditanya, “Apakah engkau benar-benar mengucapkan hal tersebut?” Abdullah bin ‘Amr menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Nabi membimbing, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melaksanakan hal tersebut.” Lantas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya. Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya saya mampu untuk berpuasa lebih dari itu.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengarahkan, “Berpuasalah sehari dan berbukalah pada hari berikutnya.” Abdullah radhiyallahu ‘anhu masih saja mengatakan, “Sesungguhnya saya mampu untuk berpuasa lebih dari itu.” Pada akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada puasa yang lebih afdhal dari ini. Inilah puasa Nabi Dawud.” Pada masa tuanya, Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma merasakan betapa beratnya berpuasa sehari dan berbuka pada hari berikutnya. Lalu ia pun berkata, “Duhai kiranya aku mau menerima keringanan yang diberikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Sehingga, Abdullah pun berpuasa selama lima belas hari secara berturut-turut dan berbuka selama limabelas hari berturut-turut juga.
Di dalam kisah ini terdapat dalil bahwa semestinya seorang hamba beribadah dengan cara yang sederhana. Tidak ghuluw dan tidak pula memandang remeh. Sehingga dia mampu melaksanakannya secara kontinyu. Dan, amalan yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang pelaksanaannya kontinu walaupun sedikit. Wallahu Al-Muwaffiq.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Dalil berikutnya yang memerintahkan kita untuk beribadah tanpa disertai sikap ghuluw adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim rahimahumallah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Tiga orang sahabat datang ke rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ingin menanyakan tentang ibadah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka memperoleh kabar tentang ibadah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merasa seakan-akan ibadah Nabi sedikit. Mereka menyatakan, “Di manakah posisi kita dibandingkan Nabi? Padahal Nabi telah mendapatkan ampunan untuk dosa yang telah lewat dan yang akan terjadi.”
Akhirnya salah seorang di antara mereka berkata, “Adapun saya, saya akan menegakkan shalat malam selamanya (tidak akan tidur malam).”
Yang kedua berkata lain, “Sedangkan saya akan berpuasa selamanya dan tidak ingin berbuka walau sehari.”
Adapun sahabat terakhir bertekad, “Saya akan menjauhi wanita dan tidak ingin menikah selamanya.”
Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui mereka dan bertanya:
أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ، إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Apakah benar kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dibandingkan kalian. Aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah dibandingkan kalian. Akan tetapi, aku berpuasa dan tetap berbuka. Aku shalat malam dan terkadang juga tidur. Aku pun menikahi kaum wanita. Maka, barangsiapa membenci sunnahku, dia tidak termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam syarah hadits menyatakan, “(Alasan kedatangan ketiga sahabat tersebut) karena amalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang zhahir diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Seperti amalan beliau di dalam masjid, di pasar, atau yang dilakukan beliau di tengah masyarakat bersama para sahabat. Jenis amalan seperti ini zhahir dan telah diketahui oleh kebanyakan sahabat di kota Madinah. Ada pula amalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sifatnya sirr (tersembunyi). Sehingga hanya keluarga beliau yang mengetahuinya. Demikian pula diketahui oleh sebagian sahabat yang melayani kebutuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Abdullah bin Mas’ud, Anas bin Malik, dan lain-lain g. Maka, datanglah ketiga sahabat tersebut ke rumah istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan ibadah beliau ketika berada di dalam rumah.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Dikarenakan para sahabat memiliki semangat tinggi untuk berbuat kebajikan, maka mereka menganggap kecil ibadah yang telah mereka lakukan selama ini. Sehingga masing-masing bertekad untuk memilih satu bentuk ibadah. Salah seorang dari mereka bertekad untuk berpuasa setiap hari, yang kedua hendak qiyamul lail sepanjang malam, adapun yang ketiga hendak menjauhi wanita dan tidak akan menikah.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata, “Sederhana di dalam menjalankan ibadah merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya tidak seharusnya engkau, wahai hamba, memberat-beratkan diri. Berjalanlah dengan perlahan sebagaimana pembahasan yang lalu.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Dalil berikutnya tentang wajibnya beribadah tanpa sikap ghuluw adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.
دَخَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَسْجِدَ فَإِذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَّتَيْنِ فَقَالَ: مَا هَذَا الْحَبْلُ؟ قَالُوا: هَذَا حَبْلٌ لِزَيْنَبَ فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ. فَقَالَ النَّبِيُّ n: لاَ، حَلُّوهُ لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ
Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid. Beliau mendapatkan seutas tali terikat di antara dua tiang masjid. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Tali untuk apa ini?” Para sahabat menjawab, “Tali ini milik Zainab. Apabila dia merasa capek shalat, dia pun bergantung dengan tali.” Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, “Lepaskan tali ini, hendaknya siapapun di antara kalian menegakkan shalat dalam keadaan giat. Apabila dia merasa capek, hendaknya dia tidur.”
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang tidak semestinya seorang hamba terlalu berdalam dan berlebihan di dalam ibadah. Ia memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu ia lakukan. Seharusnya ia menegakkan shalat ketika dalam keadaan semangat. Apabila ia merasa lelah hendaknya ia berhenti dan tidur. Karena, seseorang yang shalat dalam keadaan lelah, konsentrasinya akan buyar, jenuh, dan jemu. Bahkan mungkin saja dia akan membenci ibadah tersebut. Mungkin juga dia ingin mendoakan kebaikan untuk dirinya, ternyata malah ia mendoakan kejelekan untuk dirinya sendiri.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk beristirahat dan tidur apabila rasa kantuk benar-benar mengganggu. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلىَّ وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِي لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian merasakan kantuk sementara ia sedang shalat, hendaknya dia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Karena, mungkin saja ada di antara kalian yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak menyadari, inginnya dia memohon maghfirah. Ternyata malah mendoakan celaka untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Demikian juga persaksian para sahabat tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shalat beliau benar-benar sederhana, tidak terlalu dan tidak selalu panjang, tidak pula terlalu pendek. Al-Imam Muslim rahimahullahu meriwayatkan sebuah hadits di dalam Shahihnya dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita:
كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا
“Aku selalu melaksanakan shalat bersama Rasulullah, dan shalat beliau selalu sederhana (tidak terlalu panjang juga tidak terlalu singkat), khutbah beliau pun demikian.” (HR. Muslim)
Saudaraku, hafizhakallah. Sungguh para pendahulu kita dari generasi salaf telah menuntun kita untuk menjauhi sikap ghuluw di dalam beribadah. Di dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 1968) disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman Al-Farisi dengan Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhuma. Suatu hari Salman datang berkunjung ke rumah Abu Ad-Darda’. Ketika itu Salman melihat Ummu Ad-Darda’, istri Abu Ad-Darda’, menggunakan pakaian sederhana sekali dan tidak berhias.1
Lalu Salman bertanya, “Ada masalah apa?” Ia menjawab, “Saudaramu, Abu Ad-Darda’, dia tidak lagi membutuhkan dunia.”
Kemudian datanglah Abu Ad-Darda’ untuk membuatkan makanan dan mempersilakan Salman untuk menyantap hidangan. Sementara Abu Ad-Darda’ tidak menyentuh hidangan tersebut karena sedang berpuasa. Salman berkata, “Saya tidak akan menyantap makanan ini kecuali engkau harus menemaniku makan.” Abu Ad-Darda’ kemudian menyantap makanan tersebut. Di saat tiba malam hari, Abu Ad-Darda’ bangkit untuk melaksanakan qiyamullail. Salman memberikan nasihat agar Abu Ad-Darda’ istirahat dan tidur. Abu Ad-Darda’ pun menurut dan segera tidur. Di pertengahan malam, Abu Darda ingin melaksanakan qiyamullail. Salman masih memberikan nasihat yang sama, agar Abu Ad-Darda’ istirahat dan tidur. Setelah masuk akhir malam, Salman pun membangunkan Abu Ad-Darda’, “Bangunlah sekarang.” Mereka berdua lalu menegakkan qiyamullail.
Setelah itu Salman menyampaikan:
إِنّ لِرَبَِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak darimu, dirimu pun memiliki hak juga. Demikian pula keluargamu memiliki hak yang harus engkau tunaikan. Maka, tunaikanlah hak masing-masing.”
Setelah itu, ia menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kisahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salman memang benar.”
Betapa rahmatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap segenap hamba-Nya yang telah menjadikan syariat ini mudah. Jangan nodai keagungan rahmat-Nya dengan sikap-sikap ghuluw. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah:185)
Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berwudhu dan mandi karena janabah. Demikian pula bertayammum ketika sakit atau tidak mendapatkan air. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu.” (Al-Ma’idah: 6)
Demikian pula dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hal yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj:78)

Penutup
Kita menutup pembahasan ini dengan menukilkan sebuah wasiat yang telah dititipkan oleh Salafunaa Ash-Shalih agar kita meraih kemuliaan di sisi Allah Rabbul ‘Alamin.
Al-Imam Qatadah bin Di’amah As-Sadusi rahimahullahu berpesan, “Waspadalah dan berhati-hatilah dari sikap memberat-beratkan diri, berlebih-lebihan, dan ghuluw serta merasa ujub sendiri. Hendaknya kalian bersikap tawadhu’, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajat kalian.” (Siyar A’lam An-Nubala’)

1 Hal ini terjadi sebelum turunnya ayat hijab.
Read More

Posted on 6:09 AM

Kebenaran Tercampakkan karena Kedengkian dan Kesombongan

Kebenaran Tercampakkan karena Kedengkian dan Kesombongan
Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada umat manusia tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antara nikmat paling agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan adalah diciptakan-Nya mereka di atas fitrah yang mulia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30)
Di antara fitrah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan umat manusia di atasnya adalah mencintai kebenaran dan mencarinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Hati adalah makhluk yang mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya.” (Majmu’ Fatawa, 10/88)
Beliau pun berkata: “Maka sesungguhnya al-haq (kebenaran) itu dicintai fitrah yang baik, dan dia (al-haq) itu lebih dicintai, lebih dimuliakan, lebih lezat bagi fitrah dibandingkan kebatilan yang tidak ada hakikatnya. Sungguh fitrah tidak mencintai hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 16/338)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Agama Islam itu adalah agama yang hikmah. Maknanya, mengilmui kebenaran dan mengamalkannya dalam seluruh perkara.” (Taisirul Lathifil Mannan, hal. 58)
Sehingga apabila jiwa itu tetap di atas fitrahnya, maka tidak akan menuntut kecuali kebenaran. Sedangkan kebenaran itu telah jelas dan terang, tidak ada kesamaran atasnya.
Al-’Allamah Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya kesempurnaan seseorang itu berkisar pada dua hal:
1. Kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan
2. Lebih memilih kebenaran tersebut daripada kebatilan.
Tidaklah kedudukan makhluk di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali ditentukan oleh kadar perbedaan mereka dalam dua perkara tersebut. Karena dua perkara inilah, para nabi dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang memiliki kekuatan dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)
الْأَيْدِي maknanya kuat dalam melaksanakan kebenaran, الْأَبْصَارُ maknanya kemampuan membedakan antara kebenaran dengan kebatilan dalam urusan agama.
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati mereka, para nabi, dengan kesempurnaan memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam mengamalkannya.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 139)
Oleh karena itulah, setiap hamba wajib berpegang teguh dengan fitrahnya dan berhati-hati terhadap sebab-sebab yang akan menghalanginya dari kebenaran (al-haq), serta takut terhadap segala sesuatu yang akan menyimpangkannya. Apabila ada suatu hal yang telah menggelincirkannya dari kebenaran tersebut, dia segera kembali kepada al-haq itu dan berusaha memeganginya dengan kuat.
Adapun faktor-faktor yang akan menghalangi dan menyimpangkan seorang hamba dari al-haq banyak sekali jumlahnya. Bisa berasal dari diri sendiri, seperti kebodohan dan hawa nafsunya. Bisa juga dari luar dirinya, seperti setan dari golongan jin dan manusia.
Di antara sekian banyak faktor tadi, yang paling banyak menggelincirkan makhluk dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-kibr (kesombongan) dan al-hasad (kedengkian) yang ada pada dirinya.
Kesombongan dan kedengkian inilah yang menyeret Iblis la’natullah alaih untuk durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedurhakaan Iblis ini adalah yang pertama kali dalam alam semesta. Hal itu terjadi karena Iblis iri dan dengki dengan keutamaan serta kedudukan Adam q. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih beliau untuk menjadi khalifah di muka bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala ajari beliau berbagai nama (benda) seluruhnya, serta Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya. Hal inilah yang menyeret Iblis untuk durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian pula, kesombongan dan kedengkianlah yang menyeret Yahudi untuk tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengingkari kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah ahlul kitab, yang mengetahui berita akan diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui kitab Taurat dan Injil. Sebelum beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, mereka juga sering menceritakan kepada orang-orang Arab bahwa waktu diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dekat. Setelah diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka juga betul-betul yakin bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yakinnya mereka terhadap anak-anak mereka sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Yang menyeret mereka untuk mendustakan dan enggan untuk beriman kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kesombongan dan kedengkian. Hal ini terjadi karena beliau bukan berasal dari bangsa mereka, di mana mereka merasa lebih mulia daripada bangsa Arab.
Apabila kesombongan dan kedengkian itu mampu menyeret manusia ke dalam kekafiran, padahal dosa ini adalah dosa yang paling besar, maka bagaimana tidak mungkin akan menyeret kepada dosa-dosa lain yang lebih kecil? Tentunya sangat mudah, kecuali orang-orang yang mendapatkan perlindungan dan hidayah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Hasad (Kedengkian)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Ataukah mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (An-Nisa’: 54)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَلاَ تَحَاسَدُوا
“Janganlah kalian saling iri dan dengki.” (HR. Muslim)
Dalil-dalil di atas menunjukkan haramnya hasad (iri dan dengki). Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh menjaga dirinya dari penyakit tersebut, serta khawatir dirinya akan terjatuh padanya. Juga senantiasa berupaya membersihkan diri darinya. Karena hasad itu sangat tersembunyi di dalam jiwa, sewaktu-waktu bisa muncul dan membinasakan dirinya. Wal ‘iyadzu billah.
Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimi rahimahullahu berkata: “Hasad itu hakikatnya adalah apabila orang lain yang menerangkan kebenaran, maka dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa bila dia meyakini kebenaran tersebut berarti dia mengakui kelebihan ilmu dan keutamaan orang itu, serta mengakui kebenaran yang ada pada diri orang tersebut. Sehingga akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat. Barangkali orang yang mengikuti dia akan semakin banyak. Sungguh engkau akan dapati sebagian orang yang berambisi menyalahkan orang lain adalah dari kalangan ulama, walaupun dengan cara yang batil sekalipun. Hal itu terjadi karena kedengkiannya dan upaya menjatuhkan kedudukannya di mata umat. Kebanyakan terjadinya saling iri dan dengki itu adalah di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas (aqran dari kalangan penuntut ilmu).” (At-Tankil, 2/190)
Oleh karena itulah, kebanyakan orang menolak (tidak mau menerima) kebenaran apabila orang yang membawa kebenaran itu adalah orang yang dianggap sederajat dengannya. Padahal dia akan menerima kebenaran tersebut kalau yang menyampaikan adalah gurunya atau orang yang lebih tinggi darinya.
Abu Hatim Ibnu Hibban rahimahullahu berkata: “Kebanyakan hasad (iri dan dengki) itu terjadi di antara aqran (orang-orang yang seumur, sekelas, seprofesi). Orang-orang yang sama profesinya, seperti para penulis, tidak akan hasad kepadanya kecuali para penulis juga. Sebagaimana para hafizh itu tidak akan hasad kepadanya kecuali para hafizh pula. Dan seseorang tidak akan mencapai suatu kedudukan dari berbagai kedudukan dunia kecuali dia pasti akan mendapati orang yang membenci dirinya karena kedudukan tersebut (karena iri dan dengki kepadanya). Maka, orang yang hasad adalah lawan yang senantiasa berusaha menentang.” (Raudhatul ‘Uqala, hal. 136)
Asy-Syaukani rahimahullahu berkata: “Di antara sebab yang menghalangi seseorang bersikap inshaf (adil dan ilmiah) adalah apa yang terjadi di antara orang-orang yang berlomba-lomba mendapatkan keutamaan di antara aqran (selevel). Hal itu terjadi pula dalam urusan kepemimpinan dunia maupun agama. Maka apabila setan telah mengembuskan (api hasad) pada dirinya, persaingan pun semakin sengit, sampai pada suatu tingkatan yang bisa menjerumuskan masing-masingnya untuk menolak segala sesuatu yang dibawa oleh lawannya (walaupun berupa kebenaran yang sangat jelas).
Dalam perseteruan ini, sungguh kita menyaksikan dan mendengarkan peristiwa-peristiwa yang mengherankan yang dilakukan oleh segolongan orang-orang yang berilmu layaknya perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka menolak kebenaran yang dibawa pihak lawannya serta membantah dengan cara yang batil1.” (Adabuth Thalib, hal. 91-92)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Kesimpulannya, hasad adalah akhlak yang tercela. Yang sungguh memprihatinkan adalah bahwa kebanyakan hasad tersebut terjadi di antara para ulama dan thalabatul ilmi (penuntut ilmu). Terjadi pula hasad di antara para pedagang. Orang-orang yang memiliki profesi yang sama akan hasad terhadap orang-orang yang seprofesi dengannya. Namun yang paling memprihatinkan adalah hasad di antara para ulama lebih dahsyat. Hasad di antara para penuntut ilmu juga lebih dahsyat. Padahal semestinya orang-orang yang berilmu adalah orang yang paling jauh dari penyakit ini. Mereka mestinya adalah orang yang paling baik akhlaknya. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 74)

Al-Kibr (Kesombongan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Ghafir: 35)
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Karena faktor-faktor inilah, orang-orang Yahudi terus-menerus di atas kebatilannya. Yaitu karena apa yang ada dalam hati-hati mereka seperti kesombongan, kedengkian, keras kepala, dan tabiat-tabiat jelek lainnya.” (Naqdhul Manthiq, hal. 27)
Dengan hal inilah kita mendapatkan kejelasan bahwa kesombongan itu adalah salah satu penghalang untuk menerima kebenaran.
Demikian juga apabila kesombongan itu telah memenuhi hatinya, akan menjadikan pemiliknya menganggap dirinya tinggi dan sempurna, sehingga merasa tidak membutuhkan orang lain. Hal ini juga akan menghalanginya dari evaluasi dan introspeksi diri, barangkali yang keliru adalah dirinya. Inilah keadaan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.
Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Orang yang sombong adalah orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain (dalam segala perkara).” (At-Tabashshurah, 2/222)
Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullahu berkata: “Orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim bagi dirinya, maka mereka tidak akan memedulikan apapun. Mereka tidak akan memperhitungkan hal-hal yang menyelisihi pendapatnya sama sekali. Mereka juga tidak mau introspeksi diri atau mengevaluasi pandangan-pandangannya. Tidak sebagaimana sikap orang-orang yang berusaha mencurigai dirinya sendiri (barangkali kesalahan ada di pihaknya), dan akan berhenti tatkala menimbulkan suatu permasalahan (padahal inilah sikap orang-orang yang berakal).” (Al-I’tisham, 2/269)
Orang-orang yang mengikuti kebenaran adalah orang-orang yang tawadhu’. Orang-orang yang senantiasa mengintrospeksi dirinya adalah orang-orang yang gigih mencari dan menuntut kebenaran. Oleh karena itu, mereka tidaklah enggan untuk mengevaluasi pendapatnya. Tidak enggan pula untuk menuntut hakikat kebenaran dari suatu pemasalahan. Lebih-lebih pada hal-hal yang menimbulkan masalah.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Sungguh aku telah mendengar Asy-Syaikh Muqbil lebih dari sekali berkata: ‘Demi Allah, kami tidak mengkhawatirkan dakwah ini, kecuali dari diri-diri kami.’ Aku (Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam) katakan: Demi Allah, sungguh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu memiliki firasat yang tepat, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka khutbahnya dengan ucapan:
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari kejelekan amalan kami.”
Maka, jiwa kita, apapun kebaikan yang ada padanya, mesti terdapat kekurangan atau kejelekan.” (At-Tanbihul Hasan, hal. 68-69)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Seseorang beralih dari suatu pendapat kepada pendapat yang lain karena kejelasan yang dia dapatkan, adalah sikap terpuji. Berbeda dengan sikap orang yang sombong, terus-menerus di atas suatu pendapat yang tidak mengandung hujjah atau dalil yang kuat (ini adalah sikap yang tercela). Sedangkan meninggalkan suatu pendapat yang telah jelas hujjah atau dalilnya, atau berpindah dari suatu pendapat kepada pendapat lain karena adat dan mengikuti hawa nafsu, itu adalah sikap yang tercela pula.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5/125)

Terapi Hati dari Penyakit Sombong dan Hasad
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Makna tawadhu’ adalah menerima kebenaran dengan tunduk kepadanya, menghina diri, patuh, dan masuk di bawah perbudakannya. Di mana kebenaran itulah yang mengatur dirinya, sebagaimana seorang raja mengatur kekuasaannya. Dengan inilah seorang hamba akan mendapatkan akhlak tawadhu’. Agar bisa bersikap demikian, seorang muslim membutuhkan ilmu, ikhlas, sabar, dan latihan yang terus-menerus, diiringi doa, serta senantiasa menjaga keselamatan hati dari penyakit-penyakitnya (ujub, riya, sum’ah sombong, hasad, dll).
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)
Hammad bin Ibrahim berkata: “Kebenaran itu telah jelas dan mudah. Di mana manusia diciptakan di atas fitrahnya untuk mengetahui, mencintai, dan menerima kebenaran tersebut, kecuali orang yang telah rusak fitrahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit. Hal ini (kebenaran yang pahit rasanya) adalah bagi orang yang belum terlatih jiwanya. Demikian juga bagi ahli bid’ah serta orang yang mengikuti hawa nafsunya.” (Ash-Shawarif ‘anil Haq, hal. 41)
Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “Ucapan mereka bahwa kebenaran itu pahit, itu adalah bagi orang yang belum terlatih jiwanya (untuk menerimanya) dan hatinya sakit. Seorang penyair berkata:
فَمَنْ يَكُنْ ذَا فَمٍ مُرّ مَرِيضٍ يَجِدْ مُرًّا بِهِ الْمَاءَ الزُّلَالَا
Orang yang mulutnya pahit, dia sakit
dia merasakan pahit dengannya air yang segar.
Maka, orang yang sehat fitrahnya akan senang dengan (kebenaran) itu walaupun berat.” (Adz-Dzani’ah ila Makarisy Syari’ah, hal. 126)
Al-Khaththabi rahimahullahu berkata: “Manusia itu tidak akan berubah dari tabiat-tabiatnya yang jelek, dan tidak akan meninggalkan kesenangannya terhadap berbagai macam kebiasaan kecuali dengan latihan-latihan yang keras dan pengobatan yang serius.” (A’lamul Hadits, 1/218)
Siapapun yang jiwanya belum terlatih menerima kebenaran, maka jiwa tersebut membutuhkan latihan dan pendidikan sampai jiwa itu menuruti kebenaran dan tunduk kepadanya, senantiasa mengoreksi amalan-amalan yang telah dia lakukan, dan senantiasa mensyukuri segala nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mudah menerima al-haq.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu adalah kebenaran dan karuniakanlah kepada kami rezeki untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami yang batil itu adalah batil dan karuniakanlah kepada kami rezeki untuk menjauhinya. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaf: 15)
Ya Allah, limpahkanlah qalbun salim (hati yang selamat dan bersih) kepada kami kaum muslimin, mukminin, salafiyyin, hati yang selalu menerima al-haq, mencintainya dan selalu mendahulukannya, hati yang putih bersih yang memancarkan cahaya iman, yang kokoh di atas al-haq.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

1 Jawa: Waton suloyo, atau yang penting beda, asal mencela. –pen

http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=788
Read More

Posted on 6:03 AM

Kisah Seguci Emas


Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harist


Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا
Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”
Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”
Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”
Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.
Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?
Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.
Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.
Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.
Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ
“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”
Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”
Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.
Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.
Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.
Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.
Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.
Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.
Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.
Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.
Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.
Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.
Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?
Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.
Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”
Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.
Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?
Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu.
Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.
Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.

sumber
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=777
Read More

Posted on 4:37 AM

Keindahan Arsitektur Islam di Masjid Sehitlik

Laporan dari Berlin

Fitraya Ramadhanny - detikRamadan
Gambar
Masjid Sehitlik (Fitraya/detikcom)

Berlin -Dua menara menjulang di daerah Tempelhof, Berlin. Masjid Sehitlik menjadi wakil keagungan arsitektur Islam di Jerman.

Masjid Sehitlik merupakan masjid Turki dengan arsitektur Usmaniyah klasik dengan ciri kubah besar dan menara kembar. Keberadaan masjid ini tidak terlepas dari sejarah hubungan diplomatik Kekhalifahan Usmaniyah dan Kerajaan Prussia pada abad ke-18.

"Semua berawal dari dibangunnya pemakaman Islam pertama di Berlin," ujar pengurus Masjid Sehitlik, Davut Yilmaz kepada detikRamadan, Minggu (13/9/2009).

Pada 1798, Dubes Kekhalifahan Usmaniyah untuk Prussia, Ali Aziz Effendi meninggal dunia. Raja Friedrich Willhem III memberikan tanah di daerah Tempelhof untuk lokasi pemakaman yang akhirnya menjadi pemakaman Islam.

Pada 1983, keberadaan pemakaman Islam semakin lengkap dengan dibangunnya sebuah masjid bernama asli Berlin Turk Sehitlik Camii. Sehit dalam bahasa Turki berarti 'Syahid'. Masjid Sehitlik ingin mengenang para tentara Turki yang gugur dalam Perang Dunia I dan dimakamkan juga di tempat ini.

"Masjid dan pemakaman di sini masih menjadi wilayah diplomatik pemerintah Turki, jadi wilayah ini punya semacam kekebalan diplomatik," jelas Davut.

Masjid Sehitlik dirancang oleh arsitek Hilmi Senalp dan sampai 2009 telah beberapa kali diperluas. Saat ini, Masjid Sehitlik memiliki luas 1.360 meter persegi yang terdiri dari lantai basement untuk ruang makan jamaah, lantai dasar untuk ruang salat perempuan, lantai satu untuk ruang salat utama, dan lantai dua dengan balkon sebagai ruang salat tambahan. Luas ini belum termasuk kantor pengurus masjid dan mini market di halaman masjid

"Masjid ini kembar dengan masjid di Tokyo, Jepang dan Askabat, Turkmenistan karena arsiteknya sama," kata Davut.

Keindahan arsitektur Usmaniyah klasik lebih terasa lagi di dalam ruangan. Berbagai kaligrafi menghiasi dinding dan langit-langit masjid. Mimbar khotbah berdiri tinggi dengan hiasan ornamen geometris khas Islam.

Aktifitas Ramadan sungguh terasa di Masjid Sehitlik. Orang-orang mengaji Al Quran di berbagai sudut masjid. Sementara di halaman, tersedia bazaar Ramadan yang menjual beraneka makanan dan kue-kue.

"Kami juga mengadakan Iftaar setiap hari, jangan lupa ikut mampir," pungkas Davut menutup pembicaraan.

(fay/nwk) Read More

Posted on 4:33 AM

Native Deen Syiarkan Islam dengan "Hip Hop"


13/09/2009 18:48

Liputan6.com, Baltymore: Rap, groove, dan hip-hop merupakan jenis musik yang melingkupi masa kanak-kanak dan remaja Native Deen. Pengalaman masa kecil itu membuat grup musik asal Amerika Serikat ini lantas membalut berbagai aliran tersebut dengan lirik-lirik islami. Bagi mereka, pesan Islam yang dibawa dalam setiap lagu menjadi pembeda dengan penyanyi muslim lainnya.

Jika selama ini nuansa Timur Tengah kerap diidentikan dengan musik islami, Native Deen malah menilai semua jenis musik bisa mejadi media penyiar agama. "Kami membuat musik yang bisa dinikmati semua kalangan karena tema musik kami yang mengagungkan Tuhan dengan segala ciptaan-nya," ujar salah seorang personelnya.

Grup yang digawangi Nasseem Muhammad, Abdul Malik, dan Joshua Salaam, ini memiliki tujuan mulia dengan musiknya. Mereka ingin meluruskan konsepsi yang salah tentang ajaran Islam di mata dunia. Untuk itu, melalui teknologi dunia maya, Native Deen membidik penggemarnya. "Kami tak sabar untuk berjumpa dengan penggemar dari negara lain," ujarnya. Simak berita selengkapnya di video.(OMI/AND) Read More

Posted on 4:32 AM

Hasan Al-Banna, Tokoh Pembaru Islam Abad ke-20

Asy-Syahid ini menginginkan seluruh umat Islam bersatu dalam melawan setiap gerakan yang merusak akidah Islam.

Nama Hasan Al-Banna sudah sangat tidak asing bagi sebagian umat Islam. Sepak terjangnya, jejak perjuangannya, membuat namanya cukup tersohor di dunia Islam.

Nama lengkapnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna. Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus pendiri dan pimpinan tertinggi Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam). Karena perannya itu, ia mendapat julukan sebagai pembaru Islam Abad ke-20.

Hasan Al-Banna berusaha berjuang dan menyiarkan dakwah Islam, sebagaimana tuntutan Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. Perhatiannya sangat besar terhadap upaya meluruskan pemahaman Islam dan mengembalikan nilai-nilai ajaran Islam yang telah dibuang oleh umat Islam sendiri.

Menurut Al-Banna, sebagian besar umat Islam hanya menginginkan akidah tanpa syariah, agama tanpa negara, kebenaran tanpa kekuatan, dan perdamaian tanpa perjuangan. Tetapi, Al-Banna menginginkan Islam sebagai akidah dan syariah, agama dan negara, kebenaran dan kekuatan, perdamaian dan perjuangan.

Suatu saat dia ditanya oleh seseorang dan si penanya mengharapkan Hasan Al-Banna menjelaskan tabiat dirinya. Imam Hasan Al-Banna berkata, ''Saya adalah seperti seorang pelancong (pengembara) yang sedang mencari kebenaran, orang yang mencari jati diri yang sebenarnya, warga negara yang mendambakan kemuliaan, kemerdekaan, ketenteraman, dan kehidupan yang mudah di bawah naungan agama Islam yang lurus. Saya berusaha untuk menerapkan Islam yang sebenarnya.''

''Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Tuhan alam semesta yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah diri saya yang sebenarnya, sekarang siapa diri Anda yang sebenarnya?'' lanjutnya.

Hasan Al-Banna, dikenal sebagai seorang tokoh yang paling gigih memberikan penjelasan kepada umat Islam tentang arti penting keterlibatan umat Islam dalam politik. Menurutnya, politik adalah bagian dari Islam, dan sesungguhnya kemerdekaan adalah salah satu kewajibannya.

Selain itu, Al-Banna juga memberikan perhatian yang besar dalam pembentukan generasi muda Muslim yang istiqamah terhadap diri sendiri, dan menjadikan Allah sebagai tujuannya, Islam jalannya, dan Muhammad sebagai teladannya.

Untuk itu, menurut Al-Banna, para generasi muda Islam haruslah memahami Islam secara mendalam, memiliki iman yang kuat, menjalin hubungan yang erat satu sama lain, mengamalkan ajaran itu dalam dirinya sendiri, bekerja dan berjuang untuk mencapai kebangkitan Islam, serta berusaha mewujudkan kehidupan yang Islami di masyarakatnya.

Guna mencapai tujuan tersebut, kata Al-Banna, umat Islam tidak boleh terpecah belah. Sebab, perpecahan itu akan melemahkan kekuatan Islam. Dalam pandangannya, umat Islam harus disatukan dalam satu landasan Islam yang universal. Dan, Islam itu harus bersatu agar semakin kuat dan jaya.

Keinginan Al-Banna yang besar ini sudah muncul sejak ia masih muda. Dari sini pula, ia mendirikan perkumpulan atau organisasi Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam), bersama enam orang temannya, pada tahun 1938.

Tujuan dari pendirian organisasi tersebut adalah untuk memberi pemahaman Islam yang benar. Menurutnya, Islam adalah merupakan akidah, sarana untuk beribadah, tanah air, kewarganegaraan, kelapangan, kekuatan, akhlak, alat untuk mencari materi, kebudayaan, dan perundang-undangan. Beberapa tokoh yang tergabung di dalamnya, antara lain Sayyid Quthb dan Yusuf Al-Qaradhawi.

Dan, keberadaan organisasi Ikhwanul Muslimin ini mampu memberikan semangat baru bagi generasi muda Islam untuk bangkit dan bersama-sama memperjuangkan Islam, sesuai tuntunan Alquran dan Sunah Nabi SAW.

Menurut Almuzammil Yusuf, dalam bukunya tentang Pemikiran Politik Ikhwanul Muslimin, kelahiran organisasi ini disebabkan adanya fakta sejarah yang menunjukkan keimanan umat Islam sudah mulai bercampur dengan sesuatu, yang tidak diajarkan dalam Alquran maupun hadis Rasulullah SAW.

Selain itu, kemunculan organisasi ini disebabkan adanya fenomena perang Salib, keragaman pendapat dan gagasan tokoh Muslim, seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Di samping itu, kemunculannya juga disebabkan adanya pengaruh sufi dan tarekat serta gerakan ideologi politik.

Ahli pidato
Hasan Al-Banna dilahirkan pada 14 Oktober 1906 di Desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Ayahnya, Syekh As-Sa'ati, adalah seorang ulama hadis dan pengarang buku dalam bidang hadis yang berjudul Al Fath Ar Robani fi Tartib Musnad Al Imam Ahmad . Ia memperoleh pendidikan dasar di sekolah Ar-Rasyad Ad-Diniyah. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal Alquran.

Walaupun masih muda, di sekolahnya dia sudah mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Jam'iyah Al-Akhlaq Al-Adabiyah dan organisasi Man'u Al-Muharramat. Dia juga selalu menulis surat yang dikirimkan kepada orang-orang yang berpengaruh. Dalam surat yang tidak menyebutkan namanya itu, berisi tentang nasihat-nasihat kepada mereka. Dia selalu mengunjungi perpustakaan As-Salafiyah dan tempat-tempat berkumpulnya para ulama Al Azhar.

Sewaktu muda, Hasan Al-Banna sering mengunjungi tempat-tempat hiburan, gedung-gedung pertemuan, dan klub-klub. Dalam kunjungannya ke tempat-tempat tersebut, Hasan Al-Banna dan teman-temannya selalu mengajak mereka agar kembali kepada Islam yang benar.

Selepas lulus SMA dengan memperoleh predikat ranking 5 tingkat negara Mesir, pada tahun 1923 Al-Banna melanjutkan pendidikan ke Fakultas Dar Al Ulum dan lulus pada tahun 1927 dengan mendapatkan peringkat pertama. Setelah menamatkan pendidikannya, ia kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berdakwah hingga kemudian ia memutuskan untuk menetap di Ismai'iliyah.

Tahun 1938, bersama enam orang temannya, ia mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin. Di Isma'iliyah, ia mendirikan masjid, kantor organisasi Ikhwanul Muslimin, dan sekolah Hara untuk mempelajari Islam. Di samping itu, di sana dia juga mendirikan sekolah yang diberi nama Ummahatul Mukminin. Tujuan dari pendirian sekolah tersebut adalah untuk mendidik putra-putri Islam dengan pendidikan Islam yang benar. Ia kemudian pindah ke Kairo, di sana dia mendirikan sebuah kantor pusat untuk organisasinya. Kantor yang didirikannya itu ia beri nama Kantor Pusat Umum.

Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berpidato, lidahnya sangat fasih, ahli dalam sastra dan pandai memilih kata-kata yang tepat. Pada tahun 1941, dia dipenjara selama sebulan berkaitan dengan pidato yang ia sampaikan yang isinya mengkritik sistem politik Inggris pada Perang Dunia ke II. Masih pada tahun yang sama, dia dipaksa pindah ke Qana.

Di tempat barunya ini, Al-Banna terus melanjutkan perjuangannya dengan menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam kepada umat dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia juga mengirimkan delegasi-delegasi ke seluruh penjuru dunia untuk mengetahui keadaaan umat Islam. Delegasi-delegasinya menginformasikan tentang realitas dunia Islam.

Pada tahun 1948, dia mengirimkan satu batalion pasukan ke Palestina. Pasukan yang ia kirim ke Palestina terdiri atas orang-orang Ikhwanul Muslimin. Dalam pertempuran melawan orang-orang Ikhwanul Muslimin, pasukan Yahudi mendapatkan kekalahan yang telak. Salah satu jenderalnya berkata, ''Seandainya mereka memberikan kepadaku satu batalion orang-orang Ikhwanul Muslimin, maka dengan pasukan tersebut saya pasti bisa menaklukkan dunia.''

Sosok Kehidupan Asy-Syahid

Di kalangan para pendiri dan anggota Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati, sangat menjaga kebersihan, daya ingatnya sangat kuat, selalu semangat dan tak kenal lelah, sangat mencintai manusia dan berlaku lemah lembut kepada mereka, selalu senyum, pemberani, dan juga tidak pernah meninggalkan shalat malam.

Sayyid Quthb, salah seorang rekannya di Ikhwanul Muslimin, mengomentari Hasan Al-Banna, ''Sesuatu yang besar dalam diri Hasan Al-Banna adalah dia selalu berpikiran positif, berbuat baik, dan jenius.''

Syekh Muhammad Al-Hamid mengomentari Imam As-Syahid, ''Sejak lama umat Islam tidak menjumpai orang seperti Hasan Al-Banna.'' Syekh An-Nadawi juga berkomentar tentang diri Hasan Al-Banna, ''Dia adalah sosok yang mengejutkan Mesir dan dunia Islam.''

Suatu saat terjadi kekacauan di Mesir dan pemerintah tidak mampu mengatasinya. Pemerintah langsung menuduh Ikhwanul Muslimin yang ada di balik kekacauan tersebut. Dengan alasan ini, pemerintah Mesir menutup kantor-kantor Ikhwanul Muslimin dan banyak anggotanya yang dipenjara serta organisasi mereka juga dibubarkan.

Sementara sang pendiri Ikhwanul Muslimin, terbunuh sebagai syahid pada tahun 1948 di dekat perempatan Ramsis. Di suatu malam, ada tiga orang yang menembakkan senjatanya ke arah Hasan Al-Banna dan mereka langsung melarikan diri. Oleh banyak kalangan, para penembak misterius ini diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah. Dua dari mereka adalah seorang intel dan satunya lagi adalah Muhammad Abdul Majid yang menjabat sebagai kepala Keamanan Negara Mesir saat itu.

Hasan Al-Banna kemudian dilarikan ke rumah sakit. Karena adanya ancaman yang keras dari pemerintah, orang-orang tidak ada yang berani mendekati dan membalut lukanya. Akibatnya, dua jam setelah penembakan terhadap dirinya, Hasan Al-Banna meninggal dunia tanpa ada yang memberinya pertolongan. Dia hanya dishalati oleh bapak dan keempat saudara perempuannya.

Sebelumnya, pemerintah memadamkan listrik terlebih dahulu di desanya. Pemerintah bersedia menyerahkan jenazah kepada keluarganya, dengan syarat mereka tidak akan mengumumkan berita duka. Jenazah kemudian dibawa oleh ayah dan saudara-saudaranya. Proses pemakaman jenazah dilakukan dalam suasana yang sangat mencekam dan dengan dikelilingi oleh tank-tank. Kuburannya dijaga ekstra ketat oleh tentara agar para pengikut Hasan Al-Banna tidak memindahkan jenazahnya.

Kepergian Hasan Al-Banna pun menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan sejumlah karya monumental, di antaranya Mudzakkirat Ad-Du'at wa Ad-Da'iyyah (Catatan Harian Dakwah dan Da'i) serta Ar-Rasail (Kumpulan Surat-surat). Selain itu, Hasan Al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini. berbagai sumber/dia

Wirid Al-Ma'tsurat

Al-Ma'tsurat adalah salah satu karya yang pernah disusun oleh Hasan Al-Banna. Risalah kecil berupa wirid, doa, yang diambil dari sejumlah surah dalam Alquran ini, sangat populer di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan, wirid-wirid yang terkandung di dalamnya dijadikan sebagai amalan harian wajib bagi para pengikut kelompok Ikhwanul Muslimin dan kebanyakan para aktivis pergerakan Islam di Indonesia.

Bacaan doa dan wirid yang terdapat dalam kitab Al-Ma'tsurat ini merupakan bagian dari amalan-amalan tarekat Shufiyyah Hashshofiyyah, di mana Hasan Al-Banna telah menjadi salah satu pengikutnya sejak usia muda. Semasa hidupnya, ia selalu mengamalkan ritual-ritual tarekat Hashshofiyyah tersebut, seperti Wazhifah (wirid) Rozuqiyyah setiap pagi dan petang. Tak hanya mengamalkan Wazhifah Rozuqiyyah, bahkan dia juga mengikuti ritual Hashshofiyyah di kuburan-kuburan dengan cara menghadap kepada sebuah kuburan, yang terbuka dengan tujuan untuk mengingat kematian, kemudian ritual Hadhroh setelah shalat Jumat, dan ritual Maulid Nabi.

Namun, menurut Ustaz Abu Ahmad sebagaimana dikutip dari Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun VI edisi Februari 2007, beberapa di antara doa-doa dan zikir-zikir dalam Al-Ma'tsurat ini ada yang lemah dalilnya atau bahkan tidak ada asalnya sama sekali. Di samping itu, di dalam risalah Al-Ma'tsurat ini banyak wirid-wirid lain yang sahih lafaznya, tetapi bidah dari segi kaifiyyat-nya (tata cara), karena memberikan bilangan bacaan-bacaannya yang tidak pernah ada tuntunannya dari Rasulullah SAW.

Pada akhir Al-Ma'tsurat ini tercantum Doa Rabithah yang berbunyi: ''Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihi al-quluuba qadijtama'at 'alaa mahabbatika waltaqat 'alaa thaa'atika watawahhadat 'alaa da'watika wa ta'aahadat 'alaa nushrati syarii'atika fawassiq allahumma raabithhaa wa adim wuddahaa.'' (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya Ya Allah, abadikan kasih sayangnya.''

Mengenai Doa Rabithah ini, Syekh Ihsan bin Ayisy Al-Utaibi berkata: ''Di akhir Al-Ma'tsurat terdapat wirid rabithah ini adalah bidah shufiyyah, yang diambil oleh Hasan Al-Banna dari tarekatnya, Hashshofiyyah.'' (Kitab TarbiyatuI Aulad fil Islam li Abdullah Ulwan fi Mizani Naqd Ilmi, hal 126)

Karena itu, di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa kitab ini tidak layak dijadikan pegangan di dalam wirid-wirid keseharian seorang Muslim, mengingat banyaknya hal-hal yang bidah yang terdapat dalam Al-Ma'tsurat ini. Para ulama ini menganjurkan agar kaum Muslimin memilih kitab-kitab zikir lainnya, yang mengacu kepada doa dan zikir yang shahih dari Nabi SAW. dia/taq/berbagai sumber

Read More

Posted on 4:29 AM

Ramadhan Menjadi Bulan Anti Yahudi di TV Timur Tengah

Kaum Yahudi seluruh dunia boleh gerah dan mencak-mencak dengan hal ini, pasalnya kebanyakan negeri-negeri Muslim khususnya di kawasan Timur Tengan - pada bulan Ramadhan ini menyiarkan siaran yang banyak mengecam Israel dan Yahudi.

Umat Islam seluruh dunia menjalankan ibadah puasa selama siang hari di bulan Ramadhan dan mereka akan berkumpul di rumah pada sore hari untuk berbuka puasa bersama. Kementrian propaganda Arab memanfaatkan potensi besar penonton ini untuk menyiarkan acara TV dengan berbagai program utama mereka termasuk di dalamnya program acara TV yang diproduksi secara khusus terkait tentang anti-Israel.

Program khusus tentang Israel dan Yahudi menduduki peringkat teratas di antara media-media Arab, dan setiap tahun stasiun-stasiun TV yang dikontrol oleh pemerintah di seluruh Timur Tengah menyiarkan program siaran yang bertema seputar pengkhianatan yang dilakukan oleh Israel atau Yahudi terhadap umat Islam dan dunia pada umumnya.

Menurut lembaga peneliti media Timur Tengah (MEMRI), yang biasa memonitor media-media di dunia Arab, menyatakan bahwa untuk tahun ini Iran telah menyiarkan sebuah program acara berseri yang diprduksi oleh Suriah yang berjudul "Al-Shatat".

Dalam acara "Al-Shatat" diceritakan bagaimana para bankir Yahudi terutama keluarga Rothchilds - datang untuk mendominasi perbankan internasional dan dunia. Dengan mengucapkan beberapa baris karakter khas dari Yahudi seperti : "Semua bangsa-bangsa yang tidak menerima keyakinan Yahudi harus di musnahkan dan di hancurkan, dan "kita telah diberikan kehormatan yang tak tertandingi - untuk mendominasi dunia, dengan menggunakan kapital, ilmu pengetahuan, politik, dengan cara membunuh atau menggunakan taktik-taktik licik lainnya,".

Serial dokumenter "Al-Shatat" yang berjumlah 30 episode ini terbukti menarik dan menjadi peringkat tertinggi di negara-negara Arab di seluruh Timur Tengah termasuk Yordania.

Sedangkan di Mesir, tak kurang dari lima serial TV baru yang disiarkan di TV Mesir tahun ini berputar di sekitar Israel dan Yahudi. Salah satunya berjudul "The Spy Wars" yang bercerita tentang Samia Fahmy, seorang Mesir yang diduga direkrut oleh Mossad, tapi malah "ditipu" oleh orang-orang Israel yang mencoba untuk merekrut dia dan akhirnya membawa dirinya ditangkap oleh aparat Mesir.

Serial TV yang lain, yang berjudul "My Heart is My Proof" bercerita tentang seorang penyanyi Yahudi kelahiran Mesir bernama Layla Murad, dia menjadi bintang terkenal Mesir, namun tuduhan bahwa dia diam-diam mendukung Israel, membuat kepopulerannya jatuh di banyak dunia Arab. Program lain, "The Second Gate," bercerita tentang seorang ibu yang anaknya diculik dan dibawa ke Israel.(fq/inn)

Read More

Posted on 2:29 AM

Eropa 2050: Benua Islam Terbesar di Dunia

Jumat, 31/07/2009 11:39 WIB

Entah ini sesuatu yang dilebih-lebihkan ataukah memang sebuah perkiraan belaka. Bisa juga sebuah kabar bagus. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ini adalah upaya untuk “menyadarkan” orang-orang di seluruh Eropa akan keberadaan umat Islam di benua mereka agar bisa mengantisipasinya dan menyebarkan Islamofobia. Tapi hampir semua pihak mengeluarkan pernyataan yang sama. Baik gereja, pemimpin dunia, media, dan bahkan para analisis, bahwa pada tahun 2050, Eropa akan menjadi benua umat Muslim. Benarkah?

Dalam beberapa tahun belakangan ini, populasi umat Muslim di Eropa memang luar biasa. Di tengah hantaman gelombang isyu Islam itu teroris, orang-orang Barat malah berbondong-bondong ingin mengenal Islam. Begitulah, jika Anda menyatakan sesuatu terlarang, maka orang dengan sendirinya akan semakin mendekati yang Anda larang tersebut. Apalagi jika itu berhubungan sebuah institusi kebenaran.

Saat ini, diperkirakan Eropa dihuni oleh kurang lebih 50 juta penduduknya yang beragama Islam. Tentu saja, walaupun hanya sepertiga dari jumlah Muslim penduduk suatu Negara yang mempunyai pemeluk Islam terbesar di dunia, tetapi Muslim di Eropa mempunyai perbedaan yang sangat besar. Antara lain, mereka memeluk Islam lebih banyak karena kesadaran mereka sendiri, bukannya factor keturunan.

Dalam sejarahnya, Islam menyebar melalui Afrika Utara, melintasi selat Gibraltar ke Spanyol. Dari sini, Islam terus memasuki Austria, dan selanjutnya pada akhir abad 1800, Islam tak terbendung lagi memasuki Eropa. Hari ini, Islam menyebar dengan cara yang luar biasa.

Kajian statistik menunjukan bahwa angka kelahiran sebuah keluarga di Eropa merupakan sesuatu yang esensial. Sejarah menunjukkan bahwa jika angka kelahiran sebuah Negara di bawah 1,9 maka Negara itu akan jatuh. Sekarang Prancis mempunyai angka kelahiran 1.8, Inggris 1,6, Yunani 1,3, Italia 1,2, dan Spanyol 1,1. Angka kelahiran di Negara-negara 31 negara Eropa lainnya jika dirata-ratakan akan mencapai 1,38.

Tapi kedatangan imigran Muslim tak bisa lagi memprediksikan angka kelahiran di Eropa. Jumlahnya makin meningkat. Misalnya saja di Prancis, angka kelahiran di Negara ini mencapai 1,8 untuk seluruh penduduknya, namun 8,1 untuk angka kelahiran setiap keluarga Muslim.

Pada tahun 2027, satu dari lima orang Prancis sudah bisa diprediksi sebagai Muslim. Dengan angka seperti ini, 39 tahun ke depan, Prancis sudah diperkirakan menjadi Negara penganut Islam terbesar. Di Belanda, 25% penduduknya adalah Muslim. 50% dari kelahiran bayi baru berikutnya juga Muslim. Sedangkan di Russia ada 23 juta Muslim, dan hanya dalam waktu dekat, 40% dari tentara Russia akan menjadi Muslim juga.

Pemerintah Jerman adalah yang pertama menyuarakan perubahan dramatis ini. Mereka memperkirakan, pada 2025, German akan menjadi sebuah negara yang berpenduduknya mayoritas Muslim.

Jumlah 52 juta Muslim di Eropa sekarang ini diperkirakan akan berlipat ganda pada 24 tahun mendatang. Sejak tahun 1990, diperkirakan 90% dari pertumbuhan adalah Muslim. Pada 2050, Eropa akan menjadi benua yang penuh dengan umat Muslim.

Di Kanada, angka kelahirannya adalah 1,6. Antara tahun 2001 dan 2006, populasi Kanada meningkat sampai 1,6 juta. 1,2-nya merupakan Muslim. Islam memang menjadi agama yang paling cepat tersebar di negara ini. Sedangkan di AS, angka kelahirannya juga sama 1,6. Jika populasi penduduk Latin disertakan maka angkanya menjadi 2,2. Tahun 1970, hanya ada 100.000 orang Islam di AS. Sekarang jumlahnya menjadi 9 juta orang. Dalam 30 tahun ke depan, diperkirakan aka ada 50 juta Muslim di AS.

Perubahan perkiraan demografi ini jelas akan membawa perubahan tersendiri di suatu negara. Hukum, institusi, dan pemerintah akan ikut berganti mengikuti perubahan politik, dan perubahan politik akan senantiasa mengikuti arus besar massa itu sendiri. Akankah 2050, Eropa menjadi benua dengan pemeluk Islam terbesar? Wallohu alam bi shawwab. (sa/ciafact/nlsnprc)

Read More

Posted on 2:29 AM

Islam Pop Eropa: Muda, Trendi, dan Sangat Religius

Rabu, 09/09/2009 16:04 WIB

Islam Pop. Begitulah istilah yang dipakai untuk merepresentasikan Islam di Eropa. Terutama generasi mudanya. Gambaran mereka berbeda jauh dengan imej para imigran. Muslim-Muslim muda sukses, teritengrasi, dan sangat relijius—santun dan bersih.

Mereka berbicara bahasa dimana mereka tinggal lebih baik daripada orang tuanya. Mereka disebut-sebut sebagai simbiosis dari Islam dan modernitas masa kini yang dilihat jelas dari gaya hidup mereka.

Peran Amr Khaled

Islam Pop sendiri ditujukan sebagai gaya hidup anak-anak muda Muslim Eropa tersebut. Akar gerakan ini berasal dari dunia arab. Mereka merupakan implementasi gaya hidup kaum Salafi yang disesuaikan dengan kekinian zaman. Mereka mengenal Amr Khaled, seorang artis asal Mesir, namun mereka tidak mengaguminya secara berlebihan.

Amr Khaled sendiri bisa dikatakan sebagai model teladan anak muda Muslim Eropa. Ia mengatakan bahwa anak-anak muda Muslim Eropa harus berbaur dengan lingkungan sosialnya, namun jangan sekalipun meninggalkan ajaran Islam. “Inilah jihad sipil kita.” Ujarnya gagah. “Tujuan kita adalah merepresentasikan imej Islam di Eropa.”

Moderat oleh standar Muslim, tegas karena standar Barat

Gaya hidup Islami yang dijalankan oleh generasi Pop Islam Eropa ini sangat jelas terlihat modern, namun mereka sama sekali tidak liberal. Sebaliknya, mereka sangat konservatif, dan memegang nilai-nilai Islam yang luhur: mereka tidak menghadiri konser-konser band metal atau hip-hop, tidak berpacaran, menjauhi ikhtilat (campur baur dengan lawan jenis), tidak pergi ke prom-nite, dan yang perempuannya mengenakan jilbab.

Walaupun berakar dari gerakan Salafi, namun generasi Muslim Pop sendiri berusaha untuk tidak menerapkan beberapa aturan dan ketentuan Salafi yang kaku. Namun mereka masih sangat sedikit, dan mereka disebut sebagai “Muslim avant-garde” atau “Muslim garda depan.”

Perwakilan Dunia Islam Eropa Baru

Jika saja bukan karena perilaku santun dan ibadah mereka, sangat sulit membedakan mereka dengan remaja Eropa lainnya yang mayoritas Kristen dan remaja Yahudi.

Jika mereka muncul di televisi, koran, majalah, atau media-media lainnya, mereka selalu dengan tegas mengatakan dengan tersenyum, “Saya seorang Muslim dan trendi.” Remaja Muslim ini jelas ingin mengenyahkan tudingan teroris yang diidentikan dengan Islam selama ini.

Mereka sangat aktif secara sosial. Mereka terlibat dengan remaja lainnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan kerap membantu orang yang kecanduan narkoba dan juga mempunyai agenda khusus dalam membantu mereka yang tak punya rumah.

Minim Kritik

Penampilan mereka sangat keren, untuk ukuran remaja, tapi mereka tidak terlihat hedonis ataupun liberal. Mereka tidak ikut dalam kursus renang di tempat umum, dan mereka jarang sekali ikut dalam tur sekolah yang hanya hanya hura-hura saja sifatnya.

Tampak jelas sebuah generasi budaya yang muda sedang tumbuh di Eropa, dan tak ada kontradiksi antara menjadi anak muda yang taat pada agamanya dengan menjadi seorang warga negara yang baik.

Anak-anak muda ini jelas telah membuat lingkungan Barat mereka jatuh hati. Bagaimana tidak, sementara anak-anak mereka melakukan seks bebas, mengonsumsi narkoba, tersendat dalam prestasi akademik, anak-anak muda Muslim ini timbul ke permukaan. Tidak heran jika banyak pengamat Barat mengatakan bahwa 40 tahun ke depan, Eropa akan menjadi benua Muslim terbesar di dunia. Duta besarnya sekarang adalah mereka generasi Pop Islam. (sa/altmslm)

Read More

Posted on 2:25 AM

Sosok Pembaharu Bukanlah Pengacau Agama Politikus atau Pemberontak

penulis Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
Syariah Hadits 24 - Maret - 2006 20:26:38

Sulaiman ibnul Asy’ats As-Sijistani yg lbh dikenal dgn kunyah Abu Dawud rahimahullahu berkata: Sulaiman bin Dawud Al-Mahri telah menyampaikan kepadaku ia berkata: Ibnu Wahb telah menyampaikan kepadaku ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Abi Ayyub dari Syarahil bin Yazid Al-Ma’afiri dari Abu ‘Alqamah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus bagi umat ini di penghujung tiap seratus tahun seseorang yg mentajdid agama umat ini.”
Hadits ini Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani rahimahullahu dlm Sunan- no. 4291. Dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dlm As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364 Al-Imam Al-Hakim dlm Mustadrak- 4/522 dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi Al-Khathib dan Al-Harawi.
Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini dlm Shahih Abi Dawud Ash-Shahihah no. 599 dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1874. Beliau berkata: “Sanad hadits ini shahih para perawi tsiqah merupakan perawi yg diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu .”
Beliau juga mengatakan: “: Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan shahih hadits ini. Adz-Dzahabi menyebutkan dlm Siyar A’lam An-Nubala` : “Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu dari beberapa jalan periwayatan dari beliau: Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan bagi manusia di penghujung tiap seratus tahun seseorang yg mengajari mereka sunnah-sunnah dan meniadakan/ menolak kedustaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata lagi: “Maka kami pun melihat orang yg demikian sifat ternyata pada akhir seratus tahun orang itu adl Amirul Mukminin ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dan pada akhir seratus tahun berikut orang itu adl Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu.”

Makna Hadits
Yang dimaksud dgn umat dlm sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg mulia:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ

“Sesungguh Allah ‘Azza wa Jalla mengutus bagi umat ini”
kata Al-Qari adl ummat ijabah namun memungkinkan juga dimasukkan ummat dakwah . Kata Al-Munawi rahimahullahu yg dimaukan dlm hadits ini adl ummat ijabah dgn dalil disandarkan kata ad-din kepada mereka dlm ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Adapun maksud dari ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ

“di penghujung tiap seratus tahun” adl akhir dari seratus tahun atau awal ketika sedikit ilmu dan sunnah di tengah umat sebalik kejahilan menyebar dan banyak kebid’ahan. Namun yg tepat yg dimaukan dlm hadits ini adl akhir dari seratus tahun bukan awalnya. Dengan bukti dari Al-Imam Az-Zuhri dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta selain kedua dari kalangan para imam yg terdahulu maupun yg belakangan rahimahumullah. Mereka sepakat bahwa mujaddid yg muncul pada akhir seratus tahun yg pe rtama1 adl Amirul Mukminin ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu. Dan seratus tahun yg kedua2 adl Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Sementara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz wafat pada tahun 101 H dlm usia 40 tahun dan masa kekhilafahan beliau 25 tahun. Sedang Al-Imam Asy-Syafi’i wafat pada tahun 204 H dlm usia 54 tahun.
Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Munawi rahimahullahu berkata: “Dimungkinkan perhitungan seratus tahun itu dari kelahiran Nabi bi’tsah hijrah beliau ke Madinah atau wafat beliau. Bila ada yg mengatakan bahwa yg kedua lbh dekat/tepat mk pendapat itu tdk jauh dari kebenaran. Akan tetapi As-Subki dan lain secara jelas menyatakan bahwa yg dimaukan adl yg ketiga .
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Seseorang yg mentajdid agama umat ini” yakni orang itu menerangkan tentang As-Sunnah sehingga jelas mana yg bid’ah. Ia menyebarkan ilmu menolong ahlul ilmi mematahkan dan merendahkan ahlul bid’ah.
Jumlah mujaddid yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tampilkan dlm tiap kurun bisa jadi hanya satu namun bisa pula berbilang. Mujaddid tersebut harus merupakan seorang alim yg mengetahui ilmu agama secara dzahir maupun batin. Demikian faidah yg diambil dari ucapan Al-Munawi.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu berkata: “Pemahaman yg menyatakan bahwa jumlah mujaddid di tiap kurun itu bisa berbilang lbh dari satu memiliki sisi kebenaran. Karena terkumpul sifat-sifat yg dibutuhkan utk men-tajdid perkara agama ini tdk dapat dibatasi pada satu jenis kebaikan saja. Dan tdk mesti seluruh perangai kebaikan dapat terkumpul pada satu orang kecuali bila orang itu semacam ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu krn beliau bangkit menegakkan perkara agama ini pada akhir seratus tahun yg pertama dlm keadaan beliau mempunyai seluruh sifat-sifat kebaikan dan terdepan dlm sifat-sifat tersebut. Karena itu Al-Imam Ahmad rahimahullahu memutlakkan bahwa ahlul ilmi membawa hadits tersebut atas ‘Umar bin Abdil ‘Aziz . Adapun setelah adl Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Walaupun Al-Imam Asy-Syafi’i memiliki sifat-sifat yg bagus namun beliau bukan orang yg menegakkan perkara jihad dan bukan orang yg memegang kekuasaan yg dapat memerintah/menghukumi dgn adil.3 Berdasarkan hal ini mk tiap alim yg memiliki salah satu sifat-sifat yg demikian di penghujung seratus tahun mk dialah mujaddid yg diinginkan baik jumlah berbilang atau hanya satu.”
Makna tajdid sendiri adl menghidupkan apa yg telah terkubur ataupun runtuh berupa pengamalan terhadap Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ataupun menghidupkan hukum-hukum syariat yg telah runtuh dan bendera-bendera As-Sunnah yg telah hilang dan ilmu-ilmu agama yg dzahir maupun batin yg telah tersembunyi.4
Seorang mujaddid bukanlah seorang pengacau agama. Makna inilah yg dipahami kebanyakan orang bahwa mujaddid adl seseorang yg mengajarkan jalan baru dlm agama yg sebenar lbh pantas dikatakan pengacau agama. Seperti kesalahpahaman orang Indonesia yg menyatakan Nurcholish Madjid sebagai mujaddid ataupun Muhammad ‘Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani yg dianggap sebagai mujaddid. Bukan pula mujaddid adl seorang politikus sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa mujaddid adl seorang politikus ulung seperti yg dikatakan orang terhadap Abul A’la Al-Maududi ataupun Dr. Taqiyuddin An-Nabhani pendiri Hizbut Tahrir. Demikian pula mujaddid bukanlah seorang pemberontak yg memberontak terhadap pemerintah dan negara seperti yg dikatakan orang terhadap Hasan Al-Banna Sayyid Quthb atau Sa’id Hawa. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa seorang mujaddid tidaklah membawa agama baru pemikiran baru atau jalan baru. Tetapi ia mengajak manusia utk kembali kepada agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg murni setelah mereka melupakan agama Nabi mereka dan tenggelam dlm kebodohan kebid’ahan dan kesesatan.

Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Agama ini di antara dgn Menampilkan para Mujaddid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah lama wafat namun agama beliau tetap terjaga sampai hari ini dan sampai nanti ketika datang hari kiamat. Al-Qur`an yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau tetap murni sebagaimana saat diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kali yg pertama. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pemeliharaan sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

“Sesungguh Kamilah yg menurunkan Adz-Dzikra dan Kami juga yg akan menjaganya.”
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Tidaklah dipalingkan satu makna dari makna-makna Al-Qur`an kecuali Allah akan mendatangkan orang yg akan menerangkan al-haq yg nyata pada Al-Qur`an tersebut.”
Tidak hanya Al-Qur`an yg terjaga kemurnian namun juga Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg merupakan tafsir atau penjelasan dari Al-Qur`anul Karim. Para ulamalah yg dipilih Allah Subhanahu wa Ta’ala utk meneruskan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh alam krn mereka adl pewaris ilmu para Nabi. Dengan keberadaan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama-Nya.
Demikianlah setelah diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk membiarkan umat ini terus tenggelam dlm kebodohan lupa akan petunjuk dan bimbingan agamanya. Di tengah umat ini selalu ada orang2 yg Allah munculkan utk mengadakan perbaikan ketika manusia membuat kerusakan. Di tengah mereka mesti ada Ath-Tha`ifah Al-Manshurah Al-Firqatun Najiyah. Dan di tiap penghujung seratus tahun atau satu abad dari perjalanan waktu di tengah mereka mesti akan tampil seorang atau lbh ulama mujaddid yg akan mengajak mereka utk kembali kepada ajaran agama Islam yg murni seperti yg dibawa Nabi umat ini Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kemunculan dipastikan dlm hadits yg telah kita bawakan di atas.

Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu Sosok Pembaharu
Salah seorang sosok mujaddid yg Allah Subhanahu wa Ta’ala munculkan di abad ke-12 Hijriyyah atau bertepatan dgn abad ke-19 Masehi adl Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali At-Tamimi Al-Hanbali rahimahullahu yg bertempat di negeri Najd Saudi Arabia. Beliau lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Banyak karya tulis yg berbicara tentang beliau yg disifati sebagai seorang peng-ishlah yg agung seorang mujaddid Islam seorang yg berada di atas petunjuk dan cahaya dari Rabb dan banyak lagi kebaikan-kebaikan yg sulit utk dihitung.
Syaikh Mujaddid ini disifati demikian tdk lain krn beliau seorang alim salafi dari sisi aqidah dan manhaj hingga pantas disifati dgn sifat-sifat kesempurnaan dan disebut dgn sebutan yg merupakan perangai kebaikan dan amal kebajikan. . Barakah dakwah beliau terus dirasakan oleh umat Islam sampai hari ini walaupun beliau telah wafat 221 tahun yg lalu . Tidak sebatas di negeri tetapi juga sampai ke seluruh negeri yg ada di berbagai belahan bumi ini termasuk pula negeri kita Indonesia. Kitab-kitab karya beliau tersebar ke segala penjuru negeri dibaca dipelajari dan dijadikan rujukan oleh para penuntut ilmu seperti kitab Al-Ushuluts Tsalatsah Kasyfusy Syubuhat Kitabut Tauhid Masa`ilul Jahiliyyah dan masih banyak lagi.
Para ulama setelah beliau banyak yg mensyarah karya-karya beliau menjadi satu atau beberapa kitab yg tebal. Satu hasil nyata dari dakwah beliau adl berdiri kerajaan tauhid Saudi Arabia dan tetap tegak sampai hari ini sebagai satu-satu negara yg mengibarkan bendera tauhid dan menyatakan perang terhadap kesyirikan. Walillahil hamdu .


Pada awal dakwah Syaikh yg mulia ini melihat kebodohan tersebar di seluruh negerinya. Beliau melihat manusia berbolak-balik menuju ke pelepah kurma dan kuburan utk memohon kepada penghuni kubur dan benda-benda mati dgn permintaan yg semesti tdk diminta kecuali kepada Pencipta langit dan bumi. Beliau melihat manusia meminta ampunan dan kesembuhan kepada penghuni kubur sebagaimana mereka juga dikuasai oleh ketakutan yg sangat terhadap para setan di mana hal itu membawa mereka utk berlindung kepada setan.
Saat berkeliling negeri utk menuntut ilmu beliau juga melihat umat Islam hidup dlm kejahiliyahan yg sama dgn umat di negerinya. Di samping itu beliau melihat Kitabullah tdk lagi menjadi rujukan dlm pengambilan hukum namun justru manusia berhukum dgn selain hukum Allah. Inilah fenomena yg mendorong Syaikh utk mengadakan perbaikan aqidah dan hukum sehingga hukum hanya milik Allah dan ibadah hanya ditujukan pada-Nya demikian pula mutaba’ah hanyalah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyerang kejahiliyahan dan berseru dgn lantang kepada manusia bahwa mereka tdk di atas agama Islam sedikitpun.


Beliau pun mengajak mereka utk kembali kepada Islam yg hakiki beribadah kepada Allah saja tdk menyekutukan-Nya dgn sesuatu pun dan agar ketaatan hanya ditujukan kepada Rasul-Nya. Beliau mengajak mereka agar beribadah kepada Allah dgn ajaran yg dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengadakan-adakan perkara baru dlm agama dan agar hukum yg diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dijadikan sebagai pokok bukan sekedar pembungkus dlm pendapat-pendapat undangundang atau adat. Beliau membawa mushaf guna mengajak manusia agar kembali kepada merasa cukup dengan dan dgn As-Sunnah sebagai penjelas dan perinci apa yg global dlm Al-Qur`an.


Berawal dari sini bangkitlah orang2 yg mendukung kehidupan jahiliyyah. Mereka pun bereaksi dan berteriak bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab datang membawa agama baru dan menganut madzhab yg kelima. Namun Syaikh tetap berlalu dgn dakwah beliau tanpa mengindahkan apa yg mereka ucapkan dan sebarkan.


Banyak sumbangsih yg diberikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu kepada kaum muslimin yg semesti disyukuri. Namun ada saja orang yg hasad kepada beliau atau orang yg dakwah berseberangan dgn dakwah yg beliau tegakkan. Mereka menyimpan kebencian kepada beliau bahkan menyebarkan ucapan-ucapan jelek dan tuduhan palsu tentang beliau dan dakwahnya. Sehingga tdk sedikit orang awam yg termakan ucapan mereka. Akibat beliau dibenci dan dicaci oleh mereka dan dakwah seperti yg beliau ajarkan dijauhi.
Ditempelkanlah gelar Wahabi kepada pengikut dakwah beliau seakan beliau dan pengikut dakwah beliau berjalan di atas selain jalan yg haq dan membentuk madzhab yg kelima dlm Islam. Padahal dakwah beliau adl dakwah kepada tauhid yg murni memperingatkan dari kesyirikan dgn seluruh jenis seperti bergantung kepada orang2 mati dan yg lain baik berupa pepohonan bebatuan dan semisalnya.


Dalam masalah aqidah beliau rahimahullahu berada di atas madzhab As-Salafus Shalih dlm fiqih beliau berpegang dgn madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu sebagaimana ditunjukkan dlm kitab-kitab karya beliau fatwa-fatwa beliau dan kitab-kitab karya pengikut beliau dari kalangan anak dan cucu-cucu serta selain mereka.
Dengan demikian Wahabiyyah bukanlah madzhab kelima seperti anggapan orang2 bodoh dan orang2 yg benci. Dia hanyalah dakwah kepada aqidah salafiyyah dan memperbaharui apa yg telah roboh dari bendera-bendera Islam dan tauhid di jazirah Arab.

Aqidah dan Keyakinan Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu
Tuduhan orang2 yg benci ataupun orang2 bodoh bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu membawa agama baru dan menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tdk terbukti. Bahkan bukti yg ada menunjukkan bahwa beliau di atas al-haq dan dakwah yg beliau sampaikan adl dakwah yg haq mencocoki ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini kita bawakan aqidah yg beliau yakini guna menepis tuduhan dan membuang keraguan dari orang2 yg ragu.
Ketika penduduk Qashim menanyakan tentang aqidah beliau beliau menyatakan bahwa aqidah yg beliau yakini adl aqidah Al-Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan hal ini beliau amalkan dan jalankan selama hidup beliau. Aqidah tersebut berupa:


1. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya kebangkitan setelah mati dan iman terhadap takdir yg baik maupun yg buruk.
2. Termasuk iman kepada Allah adl mengimani sifat-Nya yg yg disebutkan-Nya dlm kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif dan tanpa ta’thil tanpa takyif dan tamtsil .
3. Al-Qur`an adl Kalamullah yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan makhluk. Al-Qur`an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan kembali kepada-Nya.
4. Mengimani seluruh yg dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hal-hal yg terjadi setelah kematian fitnah dan ni’mat kubur dikembalikan ruh kepada jasad pada hari kiamat ada mizan dibagikan catatan amal para hamba ada telaga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg air lbh putih dari susu rasa lbh manis daripada madu dan bejana sejumlah bintang-bintang di langit siapa yg meminum ia tdk akan haus selama-lamanya. Termasuk pula mengimani ada shirath yg dibentangkan di atas dua tepi Jahannam yg akan dilewati manusia sesuai kadar amal mereka. Mengimani ada syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada surga dan neraka yg telah diciptakan dan sekarang telah ada. Dan mengimani bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn mata kepala mereka pada hari kiamat.
5. Mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl penutup para nabi dan rasul.
6. Meyakini bahwa shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg paling afdhal adl Abu Bakr kemudian ‘Umar dan ‘Utsman yg berikut kemudian ‘Ali. Setelah adl enam shahabat yg tersisa dari 10 shahabat yg dijanjikan masuk surga 5 lalu para shahabat yg mengikuti perang Badar berikut para shahabat yg berbai’at di bawah pohon .
7. Beliau berloyalitas kepada para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebut mereka dgn kebaikan ridha kepada mereka memohonkan ampunan utk mereka menahan diri dari menyebut kesalahan mereka dan diam dari perselisihan yg pernah terjadi di antara mereka.
8. Sebagaimana beliau pun ridha kepada Ummahatul Mukminin radhiyallahu ‘anhunna.
9. Menetapkan ada karamah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
10. Tidak mempersaksikan seseorang dari kaum muslimin dgn pernyataan ‘Fulan penduduk surga’ atau ‘Fulan ahlun nar ’ kecuali yg telah dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penduduk surga atau penduduk neraka.
11. Tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin krn dosa yg diperbuat dan tdk pula mengeluarkan dari lingkaran Islam.
12. Beliau memandang jihad tetap berlangsung bersama tiap imam/pemimpin yg baik ataupun yg fajir/jahat.
13. Boleh shalat berjamaah di belakang pemimpin yg jahat.
14. Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin yg baik ataupun yg fajir selama mereka tdk memerintahkan utk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
15. Siapa yg memegang khilafah manusia berkumpul dan ridha pada atau ia menguasai mereka dgn pedang hingga menjadi khalifah mk ia wajib ditaati dan haram memberontak padanya.
16. Beliau berpandangan harus memboikot ahlul bid’ah dan memisahkan diri dari mereka sampai mau bertaubat. Kita menghukumi mereka secara dzahir adapun batin mereka diserahkan urusan kepada Allah.
17. Meyakini bahwa tiap perkara yg diada-adakan dlm agama ini merupakan bid’ah.
18. Iman adl ucapan dgn lisan amalan dgn anggota badan dan pembenaran dgn hati bisa bertambah dgn ketaatan dan berkurang dgn maksiat.
19. Beliau memandang wajib amar ma’ruf nahi mungkar sesuai bimbingan syariat. (Lihat Qathul Janiyil Mustathab Syarhu ‘Aqidah Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab)


Demikianlah aqidah yg dianut oleh Syaikh Mujaddid tersebut yg secara jelas menggambarkan beliau adl seorang sunni salafi yg berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para shahabat tabi’in atba’ut tabi’in yakni jalan As-Salafush Shalih. Semesti tdk ada lagi keraguan akan kebenaran dakwah beliau setelah ada penjelasan ini. Dan silahkan gigit jari orang2 yg benci dan hasad kepada beliau dan kepada dakwah tauhid yg haq ini.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Abad pertama Hijriyyah
2 Abad kedua Hijriyyah
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu
4 ‘Aunul Ma`bud pada kitab Al-Malahim bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir 1/10.
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu
4 ‘Aunul Ma`bud pada kitab Al-Malahim bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir 1/10.

Sumber: www.asysyariah.com

Read More

Posted on 2:18 AM

Mas, Islam Itu Indah, Ya!

Oleh Pepih Nugraha - 9 September 2009 - Dibaca 2085 Kali -

“Mas, Islam itu indah, ya!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari seorang rekan sekantor saat kami sama-sama berada di dalam kendaraan beberapa waktu lalu. Rekan sekerja saya ini seorang gadis belia yang bekerja sebagai AE, belum satu tahun di kantor dimana saya bekerja. Yang mengentak kesadaran saya adalah, gadis itu Nasrani. Radar pikiran saya pun langsung mendeteksi dan menangkap sesuatu yang menarik, kok ya dia bisa menilai demikian. “Memangnya kenapa?” tanya saya.

Rupanya dia terkesan dengan suasana bulan puasa ini. Selama bulan puasa ini dia mengatami prilaku orang berbuka puasa di jalanan. Dia terkesan bagaimana saat beduk tiba dan adzan maghrib siap berkumandang, para pengendara sepeda motor berhenti di jalan. Mereka saling berbagi sekerat makanan untuk ta’jil, entah itu sebiji kurma atau sekerat roti. Kadang minuman pun dibagi pula. Pokoknya mereka berhenti dan benar-benar dibimbing karena kesadaran harus menyegerakan berbuka puasa. Nilai solidaritas yang disebut ukhuwah Islamiyah menampilkan bentuknya yang menyejukkan di sini.

Saya bercerita kepada gadis itu mengenai prilaku Muslim saat berada di masjid, saat hendak sholat, saat memasuki masjid, saat keluar masjid, saat antri berwudlu, saat mencari tempat untuk salat, yang seluruhnya dilakukan dengan sangat tertib. Tidak ada yang saling dorong saat keluar masjid bersamaan, apalagi saat memasuki masjid. Yang mendapat shof paling depan tidak harus orang berpangkat dan kaya, orang biasa pun bisa duduk langsung di shof depan, asalkan tidak menempati tempat imam. Yang punya kedudukan dan hartawan tidak harus mencak-mencak hanya karena tidak mendapat tempat bersujud di shof depan. Sesama muslim di masjid bersalam-salaman tanda persaudaraan yang tulus.

“Kok bisa ya, Mas?” tanyanya memendam heran.

Saya bilang, ya karena sudah dari sononya memang begitu. Mereka, sebagaimana saya, memang tertib kalau di mesjid. Hanya, sambung saya lagi, kadang sikap tertib ini seringkali tidak dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Well, saya sedikit otokritiklah! Kadang saat berkendara saja, saya bilang, kebanyakan pengendara saling serobot, tidak sabar, kadang menyemburkan makian. Pengendara motor merasa menjadi raja jalanan. Pengendara mobil dengan egonya sering memepetkan moncong kendaraan ke ekor kendaraan di depannya agar tidak dipakai lewat pengendara motor. Pengendara sepeda motor kadang menghalangi jalannya mobil. Egois jadinya.Ada yang lebih parah, pengendara motor kalau kesenggol urusannya jadi “Kelas”: si kaya nyenggol si miskin! Padahal, siapa tahu sopir mobil itu semata sopir upahan majikannya yang tidak lebih kaya dari si pengendara sepeda motor.

Saya menjadi berpikir, apakah rekan sekerja saya ini sekedar memancing saya dengan pertanyaan “Kok bisa ya, Mas?” itu, padahal masih ada kelanjutannya, “Mengapa hal itu tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?!” Saya pikir, dia gadis Nasrani yang tahu diri. Justru dari sayalah pertanyaan “Mengapa hal itu tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari” itu muncul. Ah, nanti kalau dia bicara demikian dikira tulisan bermuatan SARA lagi!

Saya memang merasakan kesejukan yang sama seperti dikatakan rekan saya itu saat masih berada dalam perjalanan. Saat itu bedug sudah bertalu-talu dan adzan di radio mobil sudah berkumandang. Saya melihat beberapa anggota masyarakat membag-bagikan makanan dan minuman mineral gelas plastik yang sudah dibungkus rapi. Dengan sopan mereka menyodorkan kepada saya yang kebetulan berada di belakang kemudi kendaraan. “Untuk ta’jil, Pak, silakan!” Tentu saja mengambilnya. Allohuma laka sumtu… Seteguk air mineral kemasan botol plastik mengaliri kerongkongan saya yang kering. Nikmat luar biasa!

Kembali ke soal tertib Muslim saat berada di dalam mesjid, saya teringat satu buku bagus berjudul Haji. Ditulis oleh Michael Wolfe dan diterbitkan Serambi. Ini buku kesaksian seorang mualaf yang terpana betapa tertibnya orang berhaji; jutaan orang datang ke Mekkah dari berbagai penjuru dunia, tetapi mengelilingi Kabah dalam satu pusaran yang sama, menghadap ke satu titik yang sama, berdoa dengan bahasa yang sama, dan segalanya dilaksanakan dengan tertib.

Alangkah indahnya kalau ketertiban di mesjid ini juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ya, setidak-tidaknya saya mencobanya sendiri saja!

Read More